Minggu, 05 Juni 2011

Ini dia, cacing irian (Taenia Solium)

Bagi penduduk pedalaman Irian Jaya memelihara babi bukan hanya kebanggaan keluarga. Tapi juga berarti memelihara penyakit. Cacing pita yang banyak ditularkan ke dalam tubuh manusia lewat babi, ternyata dapat juga meninggalkan cysticercosa, penyakit berbentuk benjolan sebesar biji beras yang melekat pada daging, otak, atau mata. Akibatnya dapat menyebabkan buta, epilepsi, bahkan gila. Membunuh cacing pita (Taenia solium) di dalam tubuh manusia memang bukan hal sulit lagi. Tetapi, tubuh si cacing boleh hancur lumat digasak obat apa pun. Yang pasti, kepala dan telur-telur akan tetap aman bersarang di tubuh manusia -- dan berkembang terus. Telur kemudian menetas berwujud larva-larva (cacing kecil) -- inilah yang kemudian membentuk benjolan-benjolan tadi. Penyakit yang disebabkan cacing ini tergolong parasit. Dan perkembangannya membutuhkan perkawinan. Tak heran bila sticercosa baru terlihat setelah si pengidap cacing sudah dewasa -- meskipun dari data-data yang ada anak-anak di Irian Jaya tak sedikit yang mulai menampakkan gejala penyakit ini. Laporan Rumah Sakit Enarotali yang sampai di Departemen Kesehatan menyebutkan, 231 orang terkena penyakit ini selama 1969/1976. Dari jumlah itu, 25 penderita meninggal, 21 diamputasi, dan 125 orang cacat karena luka bakar. Kepala Sub Direktorat Zoologi Departemen Kesehatan, drh. C. Koesharyono, menyodorkan data terakhir (l977) yang diterimanya dari Irian Jaya: dari 367 penderita yang memeriksakan diri pada tahun itu, 53 orang mengidap epilepsi berat dan 11 orang kombustio (luka bakar). Kasus ini banyak dijumpai di Paniai Timur, Adedide, Kamu, dan Tigi. Penyakit cacing Irian -- disebut begitu karena, menurut drh. Koesharyono, hanya terdapat di Irian Jaya -- diketahui sejak 1970 "Waktu itu dokter setempat banyak menemukan kasus kombustio berat," ungkap Direktur Jenderal P3M Departemen Kesehatan, dr. M. Adhiatma, M.P.H. Dikatakannya, penduduk Irian Jaya yang biasa tidur di sekitar pendiangan, dengan tak sadar tercebur ke tengah api sewaktu epilepsinya kumat ketika sedang tidur. Ketika otak seorang penderita yang meninggal dibedah, ditemukan cyste bersarang di situ. "Itulah awal diketahuinya penyakit ini," kata Adhiatma. Seorang misionaris Katolik, Pastor Yan van de Horst, yang bertugas di Irian Jaya sejak 1970, tahun berikutnya menemukan kasus-kasus penyakit itu di antara beberapa penduduk di Kabupaten Paniai. Karena beberapa Puskesmas yang ada di sana tampaknya belum mampu mengobati para penderita, Horst berusaha sendiri mengatasinya. Ketika cuti 1978, ia berusaha mencari obat penyakit itu di pabrik-pabrik obat terkenal di Eropa. Tapi gagal. Dan ketika cuti tahun ini, pastor itu langsung mendatangi pabrik obat Hoechst di Jerman Barat. Menurut Horst, pabrik ini memang telah menemukan obat cysticercosa yang bisa membunuh cacing sekaligus mematikan larva-larva dan kepala si cacing. Tapi, tambah pastor itu, obat yang bernama mebendazole itu belum diizinkan masuk ke Indonesia. Obat untuk penyakit serupa dari pabrik yang lain, Merck, juga belum mendapat izin dipasarkan di Indonesia. Tampaknya para penderita cysticercosa di Irian harus tetap bersabar mengidap penyakit ini. Sebab sementara obat yang ada belum datang ke Indonesia, Departemen Kesehatan agaknya belum dapat berbuat banyak. Sebab, menurut Adhiatma, "pencegahan ditekankan pada penyuluhan untuk mengubah sikap hidup penduduk Irian Jaya." Artinya, mereka akan disadarkan agar, bila memasak daging harus benar-benar matang, menjauhkan kandang babi dari rumah -- dan, tentu pula, memperhatikan kebersihan lainnya. "Obat yang ada cuma untuk cacingnya," ungkap Adhiatma. Sebab menurut dia, "secara nasional prioritas pemberantasan cacing pita lebih rendah dibandingkan dengan pemberantasan malaria, muntah-berak, TBC, dan demam berdarah." Usia cysticercosa sudah cukup tua. Penyakit ini sudah dikenal sejak zaman kekaisaran Tiongkok. Konon, di waktu itu, untuk memberantasnya si penderita mula-mula dipuasakan. Setelah cukup lapar, di hadapannya dihidangkan makanan yang serba lezat. Cacing pita di dalam perut yang rupanya sudah kelaparan pula, segera menjulurkan kepalanya lewat mulut si penderita, begitu mencium bau makanan tadi. Pada saat itulah leher cacing itu dipotong dan kepalanya dibuang. Cara kuno itu barangkali masih mempan untuk diulangi kembali di Irian. Hanya, barngkali, cacing di sana tak begitu terangsang untuk menampakkan kepalanya. Mungkin karena makanan di Irian Jaya kurang merangsang bagi binatang melata itu

 DAUR HIDUP TAENIA SOLIUM


  • Proglotid dikeluarkan, berisi ribuan telur.
  • Di dalam telur ada larva (onkosfer) - tertelan babi/sapi
  • Onkosfer tumbuh kait sebanyak 6 (Hexa) membentu Hexacant
  • Hexacant dengan kaitnya keluar menembus dinding usus menuju saluran limfe dan ikut aliran darah otot sapi/babi
  • di otot ternak tersebut larva bertahan membentuk kista disebut larva Cistiserkus / Cacing gelembung
  • Cystycercus tumbuh membentuk scolex dalam perjalanan menuju usus
  • dan kemudian Scolex menempel di dinding usus membentuk Proglotid ( ruas ruas ) terbetuklah cacing pita
  • Cacing pita dewasa yang diusus ini tumbuh terus hingga membentuk pita yang panjang ( bisa 20 m) di usus
  • Cacing Pita yang ada di usus itu menyerap sari makanan secara osmosis meleluia seluruh permukaan proglotidnya sehingga penderita (Taeniasis) tubuhnya kurus

06 Agustus 1983  
http://202.158.52.214/id/arsip/1983/08/06/KSH/mbm.19830806.KSH45943.id.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Retno, seorang anak muda yang menyukai dan mencoba mendalami dunia web ingin berbagi pengetahuan lewat blog ini ...