Kamis, 08 Desember 2011

Penyakit-penyakit Karena Memendam Emosi

Memendam emosi atau perasaan tidak hanya berdampak pada gangguan psikis tetapi juga dapat berdampak langsung pada gangguan kesehatan tubuh. Ada beberapa penyakit yang terjadi jika Anda sering memendam emosi.

"Emosi dan perasaan trauma yang tidak ditangani dengan baik, lama-lama dapat menumpuk pada bagian tubuh dan berpotensi menimbulkan penyakit. Ini karena orang yang emosinya kacau otomatis imun tubuhnya turun, napas berantakan, suhu tubuh naik, depresi atau terlihat lebih tua, juga emosi negatifnya lama-lama menumpuk di bagian-bagian tubuh lain," ujar Irma Rahayu, Soul Healer dari Emotional Healing Indonesia (EHI) dalam acara Emotional Healing Group Therapy di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Kamis (8/12/2011).

Berikut beberapa penyakit yang berhubungan dengan emosi, yaitu:

1. Alergi, karena penyangkalan akan kekuatan dan kemampuan diri.

2. Radang sendi, karena perasaan tidak dicintai, ditolak dan perasaan dikorbankan.

3. Demam, karena perasaan marah yang tidak mampu diekpresikan.

4. Ginjal, karena kekecewaan, perasaan gagal, rasa malu yang ditekan.

5. Maag, karena takut, cemas, perasaan tidak puas pada diri sendiri.

6. Penyakit paru-paru, karena putus asa, kelelahan emosional, luka batin.

7. Sakit punggung, karena ketakutan akan uang, merasa terbebani.

8. Sakit pinggang, karena rasa tidak dicintai, butuh kasih sayang.

9. Jantung, karena rasa kesepian, merasa tidak berharga, takut gagal dan marah.

10. Kanker, karena kebencian terpendam atau makan hati yang menahun.

11. Diabetes, karena keras kepala, tidak mau disalahkan.

12. Glaukoma, karena tekanan dari masa lalu dan tidak mampu memaafkan.

13. Jerawat, karena tidak menerima diri sendiri, tidak suka pada diri sendiri.

14. Pegal-pegal, karena ingin dicintai dan disayangi, butuh dipeluk dan kebersamaan.

15. Obesitas, karena takut, ingin dilindungi, kemarahan terpendam, tidak mau memaafkan.

16. Mata minus, karena takut akan masa depan.

17. Mata plus, karena tidak mampu memaafkan masa lalu.

Minggu, 20 November 2011

Limited Scleroderma (CREST Syndrome), Penyakit Kulit Serius

Scleroderma adalah suatu kondisi yang berarti kulit mengeras. Limited Scleroderma atau sindrom Crest, adalah salah satu subtipe dari skleroderma. Sindrom Crest dapat mempengaruhi saluran pencernaan dan menyebabkan gangguan jantung dan paru-paru yang serius.

Tetapi perubahan kulit yang berkaitan dengan tersebut hanya terjadi di lengan dan kaki bawah, dan dalam beberapa kasus, pada tenggorokan dan wajah. Dalam beberapa kasus, sindrom CREST dapat menyebabkan masalah dalam kasus lain dan bahkan masalah tersebut dapat fatal.

Penyebab sindrom tersebut belum diketahui. Mengelola gejala dan mencegah komplikasi serius merupakan tujuan dari pengobatan sindrom Crest.

Penyebab

Pada sindrom Crest, sistem kekebalan tubuh akan merangsang produksi kolagen yang terlalu banyak. Kelebihan produksi kolagen akan tertimbun pada kulit dan organ internal, sehingga merusak fungsi kulit dan organ internal. Oleh karena itu, sindrom Crest diyakini sebagai gangguan autoimun.

Wanita jauh lebih mungkin untuk mengembangkan sindrom Crest daripada pria. Faktor genetik juga dapat memainkan peran karena risiko mengembangkan sindrom Crest akan meningkat jika salah satu anggota keluarga yang memiliki penyakit autoimun, seperti lupus, penyakit Hashimoto, atau rheumatoid arthritis.

Pada orang dengan kecenderungan genetik untuk sindrom Crest, zat beracun, seperti benzena, trichloroethylene, polyvinyl chloride, dan silika, dapat memicu penyakit.

Gejala

Tanda dan gejala sindrom Crest biasanya berkembang secara bertahap, tidak seperti beberapa jenis skleroderma yang terjadi cepat.

Beberapa tanda dan gejala dari kondisi sindrom Crest dapat mencakup:
1. Raynaud's Phenomenon (kejang pada pembuluh kecil tangan atau kaki yang merupakan respon stres emosional atau dingin).
2. Kulit tebal dan kasar
3. Bintik-bintik merah atau garis pada kulit
4. Benjolan di bawah kulit
5. Kesulitan menelan

Pengobatan

Tidak ada obat untuk sindrom Crest. Pengobatan untuk sindrom Crest berfokus pada meringankan tanda dan gejala, serta mencegah komplikasi.
Pengobatan tersebut dapat menggunakan obat-obatan, antara lain:

1. Obat penurun tekanan darah
2. Obat antasida
3. Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh

Selain terapi menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk meringankan gejala, dapat juga dilakukan terapi fisik dan terapi okupasi. Terapi fisik bertujuan untuk membantu mencegah hilangnya mobilitas sendi jari.

Terapi okupasi bertujuan untuk membantu penderita sindrom Crest yang kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari. Dengan bantuan seorang ahli terapi okupasional, misalnya pasien dapat belajar untuk merawat gigi. Penderita Crest dapat menggunakan sikat gigi khusus dan alat flossing.

Selain terapi-terapi diatas, dapat juga dilakukan terapi bedah, untuk mengatasi kondisi seperti:

1. Bintik-bintik dan garis merah
Bintik-bintik atau garis merah yang disebabkan oleh pembuluh darah yang bengkak di dekat permukaan kulit dapat dikurangi dengan operasi laser.

2. Deposit kalsium
Dalam beberapa kasus, endapan kalsium yang besar dapat memerlukan pembedahan.

3. Kematian jaringan atau pembusukan (gangren) pada jari
Dalam perkembangan kasus ulkus gangren, amputasi jari mungkin diperlukan.

http://www.detikhealth.com/read/2011/11/21/071758/1771583/770/limited-scleroderma--crest-syndrome--penyakit-kulit-serius?l991101755

Minggu, 07 Agustus 2011

Kanker


KANKER adalah pertumbuhan jaringan yang baru sebagai akibat dari proliferasi (pertumbuhan berlebihan) sel abnormal secara terus menerus yang memiliki kemampuan untuk menyerang dan merusak jaringan lainnya.
Kanker dapat tumbuh dari jenis sel apapun dan di dalam jaringan tubuh manapun, dan bukanlah suatu penyakit tunggal tetapi merupakan sejumlah besar penyakit yang digolongkan berdasarkan jaringan dan jenis sel asal. Golongan ini terdiri dari ratusan jenis, tetapi ada tiga golongan utama.
  • Pertama, sarkoma, yang tumbuh dari jaringan penyambung dan penyokong, seperti tulang, tulang rawan, saraf, pembuluh darah, otot dan lemak.
  • Kedua, karsinoma, bentuk kanker yang paling umum menyerang manusia, tumbuh dari jaringan epitelial (jaringan bersel yang menutupi permukaan), seperti kulit dan lapisan rongga dan organ tubuh, dan jaringan kelenjar, seperti jaringan payudara dan prostat. Karsinoma dengan struktur berlapis-lapis yang menyerupai kulit disebut sebagai karsinoma sel skuamosa (sel tanduk). Sedangkan yang menyerupai jaringan kelenjar disebut sebagai adenokarsinoma.
  • Jenis yang ketiga, leukemia dan limfoma, merupakan bentuk kanker yang menyerang jaringan pembentuk darah dan dicirikan oleh pembesaran kelenjar getah bening, penyerangan terhadap limpa dan sumsum tulang, dan produksi sel darah putih yang belum matang secara berlebihan.
Benjolan
Hampir semua kanker membentuk benjolan (tumor), tetapi tidak semua benjolan bersifat kanker, atau ganas; sebagian besar bersifat jinak (tidak berbahaya). Ciri tumor jinak adalah pertumbuhan yang sangat terpusat dan biasanya dipisahkan dari jaringan tetangganya oleh sebuah kapsul yang mengelilinginya. Pertumbuhan tumor jinak biasanya lambat, dan dari segi struktur biasanya sangat menyerupai jaringan asal. Dalam beberapa kasus, tumor jinak dapat membahayakan pasien jika menghalangi, menekan, atau memindahkan struktur tetangganya, seperti pada otak. Sejumlah tumor jinak, seperti polip di usus besar, dapat bersifat pra-kanker. Penyebaran Sel Kanker
Ciri tumor ganas yang paling utama adalah kemampuan mereka untuk menyebar melampaui lokasi asal. Kanker dapat menyerang jaringan tetangga melalui perluasan langsung atau infiltrasi, atau ia menyebar ke lokasi yang letaknya jauh dan mengembangkan pembentukan abnormal kedua yang dikenal sebagai metastasis. Rute dan lokasi metastasis bervariasi antara kanker primer yang berbeda-beda.
(1) Apabila kanker menyebar melalui permukaan organ asal ke dalam suatu rongga, maka sel mungkin dapat melepaskan diri dari permukaan dan tumbuh pada permukaan organ yang bersebelahan dengannya.
(2) Sel tumor mungkin bermigrasi ke dalam saluran limfatik dan terangkut ke aliran kelenjar getah bening, atau mereka dapat menembus pembuluh darah. Sewaktu berada di aliran darah, sel tumor dialirkan ke titik yang terlalu kecil baginya. Sel tumor dari saluran lambung dan usus akan dihentikan di hati, lalu dapat mengalir ke paru-paru. Sel yang berasal dari semua tumor lainnya akan melewati paru-paru sebelum diangkut ke organ lainnya. Oleh karena itu paru-paru dan hati biasanya menjadi lokasi metastasis.
(3) Banyak kanker cenderung meninggalkan sel di dalam aliran darah pada masa-masa awal perjalanannya. Kebanyakan sel ini mati di saluran darah, tetapi beberapa di antara mereka tersangkut pada permukaan dan menembus dinding untuk kemudian memasuki jaringan. Beberapa mungkin menemukan jaringan yang menguntungkan, tempat mereka dapat bertahan hidup, dan tumbuh menjadi tumor. Beberapa lagi mungkin hanya dapat membelah beberapa kali saja, sehingga membentuk sarang sel berukuran kecil yang kemudian menjadi dorman (suatu mikrometastasis). Kelompok sel ini dapat tetap dorman selama bertahun-tahun, dan kemudian tumbuh kembali sebagai kanker. Penyebab hal ini belum diketahui.
Sel kanker, walaupun telah tersebar secara luas, mungkin mempertahankan ciri-ciri fisik dan biologis dari jaringan asal mereka. Jadi, seorang ahli patologi seringkali dapat menentukan lokasi asal tumor yang menyebar melaui pemeriksaan mikroskopis terhadap jaringan yang bersifat kanker. Identifikasi tumor kelenjar endokrin, misalnya, menjadi lebih sederhana karena mereka mungkin menghasilkan hormon yang dihasilkan jaringan induk itu dalam jumlah yang berlebih. Tumor seperti itu dapat juga memberikan respon terhadap pemberian hormon yang biasanya mengendalikan jaringan itu.
Pada umumnya, semakin suatu sel kanker tidak menyerupai jaringan aslinya, semakin ganas sifatnya dan semakin cepat ia menyebar; tetapi laju pertumbuhan kanker tidak hanya tergantung kepada jenis sel dan perbedaannya dengan jaringan asal, tetapi juga kepada beragam faktor inang. Ciri-ciri dari kanker ganas adalah keragaman sel tumor. Karena abnormalitas perkembangbiakan sel tumor, mereka menjadi lebih rentan terhadap perubahan. Seiring waktu, tumor menjadi semakin sulit dibedakan dan tumbuh semakin cepat. Tumor tersebut mungkin pula mengembangkan daya tahan yang semakin kuat terhadap kemoterapi atau radioterapi.
Prognosis dan Visi Jangka Panjang
Banyak penderita kanker kini berhasil dirawat. Misalnya saja diperkirakan bahwa, dari lebih dari 5 juta penderita kanker di Amerika, 3 juta berhasil bertahan hingga lebih daripada lima tahun, dan hampir semua yang bertahan itu dapat dikatakan telah sembuh. Pendekatan modern terhadap pengobatan kanker turut memberikan penekanan terhadap kualitas hidup pasien - baik secara jasmani maupun secara mental.
Terdapat banyak jenis kanker dimana peluang penderita untuk hidup telah meningkat berkali-kali lipat dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Mungkin pengobatan kanker anak yang mengalami perkembangan terpesat. Misalnya saja, 90 persen anak-anak dapat disembuhkan dari penyakit Hodgkin, dimana 30 tahun yang lalu jumlah ini hanya setengahnya saja. Bentuk kanker lainnya, seperti penyakit non-Hodgkin, sejumlah penyakit leukemia, dan kanker testis berhasil diobati. Demikian pula beberapa bentuk kanker kandung kemih tak menyebar tertentu, yang jika terdeteksi secara dini dapat dihambat dalam waktu beberapa tahun.
Tingkat kematian akibat kanker telah jauh berkurang pada orang-orang yang berumur dibawah 50 tahun, dan kemungkinan besar hal ini disebabkan karena gaya hidup dan lingkungan yang lebih sehat yang telah mengurangi penghirupan jangka panjang akan zat penyebab kanker. Diagnosa yang lebih dini, yang sudag tentu penting dalam semua kasus kanker, dan perbaikan pengobatan di dunia medis turut menjadi faktor penentu. Penurunan ini diharapkan dapat berlangsung juga di kelompok umur yang lebih tua seperti yang terjadi pada umur yang lebih muda ini.
Penurunan jumlah perokok di beberapa negara mulai memperlihatkan dampak dalam angka penderita kanker di negara yang bersangkutan. Misalnya saja, jumlah kematian laki-laki di Inggris akibat kanker paru-paru akhirnya mulai mengalami penurunan. Hanya saja, jumlah wanita yang meninggal akibat penyakit itu masih mengalami peningkatan; wanita Skotlandia memiliki angka kematian tertinggi di dunia akibat kanker paru-paru.
Secara menyeluruh, resiko kematian akibat kanker telah mengalami peningkatan selaam 30 tahun terakhir ini. Penyebab utamanya adalah karena kanker terutama merupakan penyakit manula dan, seiring keberhasilan pencegahan kematian pada usia muda oleh penyakit lainnya seperti penyakit jantung, lebih banyak orang yang dapat hidup cukup lama hingga mencapai umur yang rentan terhadap penyakit kanker.


Pencegahan dan Deteksi Dini
Kira-kira 80 persen kanker secara potensial dapat dicegah. Penyebab utama terbesar yang diketahui adalah merokok, yang menyusun 30 persen dari jumlah kematian akibat kanker. Walaupun penyebab kanker belum diketahui semuanya, tetapi semakin banyak bukti menunjukkan bahwa dampak merokok, makanan, radiasi, faktor keturunan, hormon, zat kimia, dan beberapa jenis infeksi tertentu turut mempengaruhi hal ini.
Ada beberapa tindakan yang dapat diambil orang guna memperkecil resiko terkena kanker. Semua orang seharusnya:
  • tidak merokok;
  • menghindari sengatan sinar matahari;
  • mengikuti pemeriksaan massal penyakit kanker jika ada kesempatan;
  • memakan makanan sehat;
  • membatasi konsumsi minuman beralkohol;
  • memperhatikan peraturan keselamatan di tempat kerja dimana berhadapan dengan bahan kimia, radiasi, dan bahaya lainnya dapat meningkatkan resiko terkena kanker.
Deteksi dan Diagnosa
Semakin dini kanker didiagnosa dan dirawat, semakin besar peluang sembuhnya. Penyinaran berguna untuk mendeteksi beberapa kanker, namun orang masih harus waspada terhadap gejala-gejala karena kanker mungkin timbul diantara penyinaran. Setiap orang harus mencatat tanda-tanda peringatan awal kanker yang tidak bisa disinar. Gejala-gejala berikut ini membutuhkan perhatian:
  • Perubahan pada kebiasaan buang air kecil dan besar.
  • Sakit tenggorok yang tidak sembuh-sembuh.
  • Pendarahan yang tidak biasa.
  • Benjolan pada dada atau tempat lain.
  • Gangguan pencernaan atau kesulitan menelan.
  • Perubahan pada kutil atau tahi lalat.
  • Batuk yang membandel atau serak.
Gejala-gejala ini, termasuk juga benjolan yang tidak bisa dijelaskan, rasa sakit, kehilangan berat badan, dan kelelahan, harus diperiksakan ke dokter. Walau satu atau lebih gejala dapat menandakan sesuatu yang lain selain kanker, pemeriksaan untuk memastikan penyebab mereka adalah langkah terbaik. Pemeriksaan fisik untuk kanker termasuk pemeriksaan dan perabaan tempat-tempat yang rentan, terutama payudara, leher, kulit, sekat rongga dada, kemaluan, dan daerah kelenjar getah bening. Dapat juga termasuk pemeriksaan lubang-lubang tubuh, khususnya pemeriksaan dubur untuk kanker usus dan prostat, dan pemeriksaan panggul untuk kanker rahim atau leher. 

Petunjuk Baru Cara Kanker Menyebar


 
PARA peneliti selama dibingungkan oleh pertanyaan mengenai bagaimana sesungguhnya mekanisme penyebaran kanker.  Sebuah penelitian kemungkinan besar telah menemukan sebagian dari kunci jawaban di atas.  Mereka menemukan mekanisme yang mengendalikan jalannya sel dalam aliran darah, atau peredaran sel, yang mungkin bertanggung jawab atas penyebaran sel kanker di sekitar tubuh.

Peredaran sel sesungguhnya merupakan sebuah proses yang penting dan normal, namun kemungkinan juga bertanggung jawab atas metastasis, atau penyebaran dari sel-sel kanker, dimana sel-sel tersebut berpindah dengan tujuan yang sangat terarah dari tempat tumor primer (asal) ke lokasi sekunder. Misalnya ke organ paru-paru dalam kasus kanker kulit, tampaknya sel melanoma sudah terprogram untuk berpindah dengan sendirinya ke paru-paru.

Prof. Daniel Hammond dan tim peneliti dari University of Pennsylvania dan Cornell University di AS, menunjuk molekul yang mereka namakan “Molekul Goldilocks” yang mengikat sel-sel darah pada dinding pembuluh darah vena dan arteri, tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah, namun dengan daya rekat yang cukup untuk menjaga agar tidak keluar dari aliran darah.

Peredaran sel dimulai dengan daya rekat yang berputar, dimana sel-sel darah yang mengalir melalui pembuluh darah beristirahat secara berkala ketika molekul pada permukaan membentuk ikatan sementara dengan molekul Goldilock darah yang mengikat pembuluh darah.

Prof. Hammond menyamakan proses peredaran sel dengan penggunaan kode pos pada surat-surat yang dikirim langsung untuk daerah yang berbeda. “Peredaran sel darah pada jaringan merupakan hal yang krusial bagi fungsi respon kekebalan tubuh yang tepat.  Peradangan, fungsi limfosit dan melengkapkan kembali sumsum tulang setelah transplantasi semua tergantung pada hal itu.”

Ia memperkirakan bahwa penemuan tersebut mungkin berguna bagi Human Genome Project, karena mereka membantu menjelaskan hubungan antara struktur dan fungsi molekul, yang akhirnya menjelaskan bagaimana molekul bekerja, sebagaimana halnya menawarkan proses baru yang potensial dalam mencegah penyebaran kanker.


Hubungan Konsumsi Lemak dan Kanker Payudara

PARA ahli selama ini seringkali menghubungkan antara diet dengan muatan lemak tinggi mungkin menyebabkan kanker payudara.  Tapi menurut penelitan yang dilakukan oleh Dr. Richard Wiseman, mungkin hal ini tidak berhubungan langsung. Tapi diet dengan muatan lemak tinggi bisa merampas zat gizi yang penting dalam tubuh guna memerangi penyakit tersebut.

Penyebab utama kanker payudara (seperti juga kanker lain) hingga kini masih belum diketahui dengan jelas. Dr. Richard Wiseman yang memimpin penelitian ini, menyimpulkan bahwa faktor-faktor seperti kegemukan, terlambat menjadi ibu atau tidak mempunyai anak kemungkinan hanya merupakan bagian kecil dari kasus, dan merupakan sebab sekunder dari faktor-faktor utama dalam timbulnya risiko. Dr. Wiseman bahkan juga tidak memasukkan genetika, polusi dan estrogen sebagai risiko yang berarti.

Bagaimanapun, beliau meyakini bahwa faktor diet, khususnya konsumsi lemak, adalah relevan. Beliau menyimpulkan bahwa hipotesa yang mana paling sesuai dengan data epidemiologi adalah bahwa lemak menghabiskan faktor esensial yang dapat menawarkan perlindungan bagi tubuh dalam melawan kanker payudara.  Dan hal ini berhubungan erat dengan faktor usia dan pengaruh hormon estrogen.

Lima Rahasia Buah Jeruk

MENGAPA jeruk begitu banyak dianjurkan dikonsumsi untuk kebugaran,
kecantikan, dan kesehatan?  Katanya bisa menurunkan risiko penyakit
kardiovaskular dan penyakit yang berhubungan dengan umur.  Ayo simak lima kunci rahasianya!
        Vitamin C Jeruk adalah gudang vitamin C yang terbaik.  Vitamin C dikenal sebagai antioksidan yang berperan melawan gejala-gejala ketuaan atau penyakit yang berhubungan dengan usia.  Beberapa penelitian membuktikan bahwa makanan yang mengandung kadar vitamin C tinggi bisa menurunkan risiko terjadinya berbagai jenis kanker dan kerusakan jantung. Vitamin C juga sangat penting dalam sistem imunisasi, terutama selama musim flu.
        Asam Folik Jeruk adalah sumber alami asam folik.  Penelitian terbaru yang didukung lembaga pengawasan obat dan makanan Amerika (FDA) dan dipublikasikan dalam the American Journal of Clinical Nutrition, memperkirakan bahwa wanita yang tidak memetabolisme asam folik berisiko tinggi melahirkan bayi dengan down syndrome. Karena itu tak heran kalau bisa departemen kesehatan Amerika menganjurkan agar para ibu hamil untuk mengkonsumsi asam folik dalam jumlah cukup.  Penelitian lain juga menyebutkan bahwa asam folik bisa membantu mencegah penyakit fatal yang berkaitan dengan usia, seperti penyakit jantung, kanker, bahkan Alzheimer.
        Flavonoid, antioksidan yang satu ini pun banyak terdapat dalam jeruk.  Seperti diketahui, antioksidan berfungsi untuk menetralisir kerusakan yang disebabkan radikal bebas.  Kerusakan radikal bebas ini bisa mengakibatkan berbagai penyakit, termasuk kanker.
        Karbohidrat Dalam satu buah jeruk ukuran sedang terdapat 16 gram karbohidrat yang mengandung 70 kalori.  Karbohidrat sangat penting sebagai sumber energi tubuh, terutama untuk otak.  Juga energi untuk olahraga.  Selama berolahraga, otot-otot menggunakan cadangan karbohidrat (glikogen), yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari.  Konsumsi jeruk setelah berolahraga akan segera mengganti energi yang digunakan.
        Serat Nilai serat dalam sebuah jeruk setara dengan 12% yang dibutuhkan per hari.  Fungsi serat jelas sangat penting.  Antara lain, membantu proses pencernaan. Serat dalam jeruk juga bisa membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, juga menurunkan risiko penyakit jantung.  Jenis serat yang larut dalam air, seperti yang terdapat dalam jeruk, bisa membantu menurunkan rasa lapar.  Berita baik untuk mereka yang ingin menurunkan berat badan.

PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK DAN STRES KERJA TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI PADA PETUGAS BANDARA USIA 40 TAHUN KEATAS DI SENTANI TAHUN 2010

 
PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK DAN STRES KERJA TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI PADA PETUGAS BANDARA USIA 40 TAHUN KEATAS DI SENTANI
TAHUN 2010

Oleh

RETNO ASIH
NIM : 06 903 325

ABSTRAK

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mengakibatkan angka kesakitan yang tinggi. Pada tahun 2007 penyakit hipertensi berpotensi menyebabkan kematian sebesar 4,6 persen. Prevalensi Hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah 31,7 persen. 
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya hipertensi antara lain kebiasaan merokok dan stress kerja serta untuk mengetahui faktor mana yang lebih dominan berpengaruh terhadap kejadian hipertensi pada petugas Bandara Sentani usia 40 tahun keatas. Jenis penelitian ini adalah case control dengan pendekatan restrospektive. Populasi 50 orang dengan 31 orang sebagai kasus dan 19 orang sebagai kontrol. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan alat sphygmomanometer (tensimeter). Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner dan pengukuran tekanan darah, sedangkan data sekunder diambil dari kantor Bandara Sentani. Data yang diperoleh dalam penelitian ini di uji dengan menggunakan statistik uji Chi-Square dengan derajat kemaknaan (α) = 0,05 dan untuk mengetahui variabel mana yang lebih dominan digunakan analisis multivariate.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara kebiasaan merokok (p = 0,023 dengan OR = 5,192) dan stress kerja (p = 0,002 dan OR = 11,769) terhadap kejadian hipertensi pada petugas bandara usia 40 tahun keatas di Sentani. Sedangkan dari kedua variabel tersebut stress kerja (p = 0,005) yang merupakan variabel yang lebih dominan dibandingkan dengan kebiasaan merokok (p = 0,029) sehingga stress kerja lebih berpengaruh terhadap kejadian hipertensi pada petugas bandara usia 40 tahun keatas di Sentani. 


Kata kunci : Hipertensi, kebiasaan merokok, stress kerja








INFLUENCE OF SMOKING HABITS AND JOB STRESS HYPERTENSIVE 40-YEAR-OLD AIRPORT SECURITY TO TOP 2010

By

RETNO ASIH
Student reg. Number : 06 903 325


ABSTRACT
Hypertension is one of disease that result in high morbidity. In 2007 hypertensive disease potentially causing the death of 4,6 percent. Prevalence of hypertensive in the population aged 19 years and over in Indonesia was 31,7 percent.
This study aims to find out causes of hypertension, among others, work stress and smoking habits and to find out where a more dominant factor affecting the incidence of hypertension at Sentani airport workers age years and over. The kind of study is case control with retrospective approach. The population is 50 person and 31 person as the cases and 19 persons as the control. Instrumental that used in this study is a questioner and tensimeter tools (Sphygmomanometer). Primary date obtained through questionnaire dissemination and blood pressure measurement, whereas secondary date taken of airport security office. Data who obtained of this study tested by use statistical Chi-square test and degree of significance (α) = 0,05 and find  out which variabel more than potential used the multivariate analysis.
The result of study showed that there were influence between smoking habit ( p = 0,023 with OR = 5,192 ) job stress ( p = 0,002 and OR = 11, 769 ) affected the incidence of hypertension at sentani airport workers age years and over in Sentani. Whereas from the both of variable is job stress ( p = 0,029 ) so that more job stress influenced the incidence of hypertension at the sentani airport workers ages 40 years and over in Sentani.

Key  words : Hypertension, Smoking Habits, Job Stress

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang melimpahkan Rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.
Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada :
1.      Prof. DR. B. Kambuaya, M.BA, Rektor Universitas Cenderawasih
2.      Drs. A. L Rantetampang, M.kes, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih.
3.      Novita Medyati, SKM, M.Kes Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih
4.      Hasmi, SKM, M.Kes, Ketua Peminatan Epidemiologi atas arahannya selama ini.
5.      Drs. Willy Manugan, M.Kes dan Dra. Endang Sri Mulyanie, M.si. Dosen Pembimbing I dan Dosen Pembimbing II yang telah rela meluangkan waktu, memberikan masukan serta arahan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
6.      Semua dosen penguji yang memberikan masukan dan arahan guna penyempurnaan penulisan skripsi ini.
7.      Bapak dan Ibu dosen serta Staf Administrasi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih.
8.      Kepala Bandar Udara Sentani yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengumpulkan data dan petugas bandara sentani yang telah membantu memberi data guna penyelesaian skripsi ini.
9.      Kedua orang tuaku (Sumardi dan Ruti) yang sabar dan tulus mendoakan serta selalu menyayangi dan mensuportku baik selama mengikuti kuliah maupun dalam penyelesaian skripsi ini.
10.  Kakak-kakakku Martini dan Yatman,  Suwarjo SH dan Hanny Handayani SH, Jarwadi SE dan Tryas Pujilestari, Eni Yuni Ati SE yang telah mendukung setiap langkahku dengan doa dan harapannya.
11.  Keluarga Juyadi SE dan Nona R. I. Promonodewi SE serta Keluarga Tamba yang mendukung serta membimbingku selama di Jayapura. 
12.  Sahabat-sahabat terbaikku Una, Mia, Fajrin, Rika, Nela, Azet, Kak Nur, Sol’ex’10 (Kak Yanti, Kak Agu, Dyllo, Yodi, Rabi), Kak Santi, Ostin, Yan, Econ, Adhel, Dewi dan Tia terimakasih atas persahabatan yang telah kalian berikan kepadaku semoga kita selalu kompak sampai kakek nenek.
13.  Teman-teman Epidemiologi Angkatan 2006 dan transfer Angkatan 2008 suatu kebanggaan bisa belajar menjadi seorang epidemiolog bersama-sama kalian. Salam sandal bolong.
14.  Teman-teman seangkatanku Angkatan 2006 sungguh indah kebersamaan selama 4 tahun ini dalam meraih cita-cita kita. Miss you all.
15.  Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, atas bantuan dan kerjasama yang diberikan dalam penelitian.
Akhirnya harapan penulis, semoga skripsi ini menjadi sumber inspirasi bagi yang membacanya, terutama teman-teman seperjuangan dan rekan-rekan yang sempat membaca karya ini. Amin.
Jayapura, Juli 2010
Penulis

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mengakibatkan angka kesakitan yang tinggi. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang member gejala yang akan berlanjut ke suatu organ target seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah jantung) dan hipertrofi ventrikel kanan/left ventricle hypertrophy (untuk otot jantung). Dengan organ target di otak berupa stroke, hipertensi menjadi penyebab utama stroke yang membawa kematian yang tinggi (Bustan,  2007:60).
Prevalensi hipertensi di seluruh dunia, diperkirakan sekitar 15-20%. Hipertensi lebih banyak menyerang pada usia setengah baya pada golongan umur 55-64 tahun. Hipertensi di Asia diperkirakan sudah mencapai 8-18% pada tahun 1997, hipertensi dijumpai pada 4.400 per 10.000 penduduk. Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995, prevalensi hipertensi di Indonesia cukup tinggi, 83 per 1.000 anggota rumah tangga, pada tahun 2000 sekitar 15-20% masyarakat Indonesia menderita hipertensi (Departemen Kesehatan RI:2003).
Prevalensi hipertensi di Indonesia mengalami kenaikan dari tahun 1988–1993. Prevalensi hipertensi pada laki-laki dari 134 (13,6%) naik menjadi 165 (16,5%), hipertensi pada perempuan dari 174 (16,0%) naik menjadi 176 (17,6%) (Suheni, 2007).
Menurut Pajario banyak faktor yang berperan untuk terjadinya hipertensi meliputi faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) dan faktor risiko yang dapat dikendalikan (minor). Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) seperti keturunan, jenis kelamin, ras dan umur. Sedangkan faktor risiko yang dapat dikendalikan (minor) yaitu olahraga, makanan (kebiasaan makan garam), alkohol, stres, kelebihan berat badan (obesitas), kehamilan dan penggunaan pil kontrasepsi (Suheni, 2007).
Dari hasil Riskesdas 2008, prevalensi perokok setiap hari tertinggi di Indonesia yaitu Provinsi Bengkulu sebesar 29,5 % sedangkan Provinsi Papua sebesar 22 %. Berdasakan data SIRS 2007, penyakit hipertensi mempunyai potensi menyebabkan kematian sebesar 4,6 %.
Hasil Riskesdas 2008 prevalensi Hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah 31,7 %. Menurut provinsi, prevalensi tertinggi di Kalimantan Selatan 39,6 % dan terendah di Papua Barat 20,1 %.
Menurut Sani hubungan merokok dengan kesehatan juga dapat dibuktikan oleh SKRT Depkes 1986 dan 1992 dimana terlihat jelas peningkatan proporsi kematian akibat penyakit kardiovaskuler yaitu tahun 1986 sebesar 9.7% dan tahun 1992 sebesar 16,4 %. Menurut Departemen Kesehatan melalui pusat promosi kesehatan menyatakan Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi rokok tertinggi.
Di Papua, khususnya hasil observasi awal di Bandara Sentani diketahui bahwa petugas bandara yang laki-laki  adalah perokok atau mempunyai kebiasaan merokok meskipun tidak dilakukan di tempat kerja. Selain itu lingkungan, beban kerja yang tinggi dan waktu kerja yang banyak bila dihubungkan dapat menyebabkan petugas mengalami kelelahan dan dapat menyebabkan stress kerja. Stress kerja ini akan memicu peningkatan tekanan darah.
B.       Perumusan Masalah
Apakah ada pengaruh antara kebiasaan merokok dan stress kerja terhadap kejadian hipertensi pada petugas bandara usia 40 tahun ke atas di Sentani.
C.      Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dibagi menjadi 2 yaitu :                 
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh antara kebiasaan merokok dan stress kerja terhadap kejadian hipertensi pada petugas bandara usia 40 tahun ke atas di Sentani.
2.    Tujuan Khusus
Tujuan khususnya yaitu:
a.       Untuk mengetahui pengaruh kebiasaan merokok terhadap resiko kejadian hipertensi pada petugas bandara usia 40 tahun ke atas di Sentani.
b.      Untuk mengetahui pengaruh stress kerja terhadap kejadian hipertensi pada petugas bandara usia 40 tahun ke atas di Sentani.
D.      Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini antara lain :
1.         Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi para petugas bandara agar meminimalkan kebiasaan merokok untuk menghindari kejadian hipertensi pada petugas bandara diusia 40 tahun ke atas.
2.         Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi petugas Bandara Sentani dalam mencegah penyakit hipertensi. 
3.         Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan menambah wawasan mengenai pengaruh kebiasaan merokok dan stress kerja dengan kejadian hipertensi pada petugas bandara usia 40 tahun ke atas .
4.         Diharapkan penulis mampu menerapkan disiplin ilmunya di lapangan khususnya dalam materi Epidemiologi dan penyakit tidak menular.
E.       Keaslian Penelitian
Penelitian ini merupakan hasil pemikiran penulis berdasarkan latar belakang masalah, kemudian dari latar belakang ditentukan judul “Pengaruh Kebiasaan Merokok dan Stres Kerja Terhadap Kejadian Hipertensi pada Petugas Bandara Usia 40 Tahun ke atas di Sentani Tahun 2010”.
Penelitian ini mirip dengan penelitian yang pernah dilakukan diantaranya :
1.      Hubungan Antara Kebiasaan Merokok Dengan Kejadian Hipertensi Pada Laki-Laki Usia 40 Tahun ke Atas di Rumah Sakit Daerah Cepu Tahun 2007 oleh Yuliana Suheni
Persamaanya :
a.  Meneliti kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi pada usia 40 tahun ke atas.
b.  Meneliti menggunakan metode penelitian case control (kasus kontrol)
Perbedaanya :
a.  Tempat penelitian dan responden penelitian yang terdahulu yaitu laki-laki usia 40 tahun ke atas di Rumah Sakit Cepu, sedangkan penelitian sekarang yaitu petugas bandara di Sentani.
b.  Variabel bebas dalam penelitian yang dilakukan oleh Yuliana Suheni hanya kebiasaan merokok, sedangkan variabel bebas dalam penelitian yang penulis lakukan selain kebiasaan merokok juga stress kerja.
c.  Penelitian yang sekarang menggunakan SPSS versi 16 untuk menganalisis data.
2.      Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kebiasaan merokok pada Peserta Didik Kelas VIII SMP Negeri 3 Jayapura Tahun 2009 oleh Utami Pambudi
Persamaannya :
a.     Meneliti pengaruh kebiasaan merokok.
b.    Menggunakan metode penelitian case control (kasus kontrol).
c.     Pengolahan data menggunakan analisis chi-square dan SPSS versi 16.
Perbedaannya :
a.    Tempat, responden dan waktu penelitian yaitu penelitian yang dilakukan oleh Utami Pambudi bertempat di SMP Negeri 3 Jayapura tahun 2009 sedangkan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu pada petugas bandara di sentani tahun 2010.
b.    Variabel penelitian ini yaitu menggunakan stress kerja selain menggunakan kebiasaan merokok. 


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tinjauan Tentang Hipertensi
1.      Definisi Hipertensi
Menurut Sustrani hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (Silent Killer), karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya (Suheni, 2007).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang akan berlanjut kesuatu organ target seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah jantung) dan hipertrofi ventrikel kanan/left ventricle hypertrophy (untuk otot jantung). Dengan organ target di otak berupa stroke, hipertensi menjadi penyebab utama stroke yang membawa kematian yang tinggi  (Bustan, 2007:60).
Menurut Hull hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir tidak konstan pada arteri. Dari definisi-definisi di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa hipertensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah menjadi naik karena gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya (Suheni, 2007).
2.        Kriteria dan Klasifikasi Hipertensi
Menurut Pajario banyak faktor yang berperan untuk terjadinya hipertensi meliputi faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) dan faktor risiko yang dapat dikendalikan (minor). Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) seperti keturunan, jenis kelamin, ras dan umur. Sedangkan faktor risiko yang dapat dikendalikan (minor) yaitu olahraga, makanan (kebiasaan makan garam), alkohol stres, kelebihan berat badan (obesitas), kehamilan dan penggunaan pil kontrasepsi (Suheni, 2007).
Menurut WHO (World Health Organization) batas normal tekanan darah adalah 120–140 mmHg sistolik dan 80–90 mmHg diastolik. Seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140 mmHg tekanan sistolik dan 90 mmHg tekanan diastoliknya.
Tabel 1
Klasifikasi hipertensi menurut WHO/ISH

Klasifikasi
Sistolik (mmHg)
Diastolik (mmHg)
Normotensi
Hipertensi Ringan
Hipertensi perbatasan
Hipertensi sedang dan berat
Hipertensi sistolik terisolasi
Hipertensi sistolik perbatasan
<140
140-180
140-160
>180
>140
140-160
<90
90-105
90-95
>105
<90
<90
Sumber: Suheni, 2007
Menurut Rabin dan Kumar peninggian tekanan sistolik tanpa diikuti oleh peninggian tekanan diastolik disebut hipertensi sistolik terisolasi (isolated sytolic hypertension). Hipertensi sistolik terisolasi umumnya dijumpai pada usia lanjut, jika keadaan ini dijumpai pada masa dewasa muda lebih banyak dihubungkan sirkulasi hiperkinetik dan diramalkan dikemudian hari tekanan diastoliknya juga ikut meningkat. Batasan ini untuk individu dewasa diatas umur 18 tahun, tidak dalam keadaan sakit mendadak. Dikatakan hipertensi jika pada dua kali atau lebih kunjungan yang berbeda didapatkan tekanan darah rata-rata dari dua atau lebih pengukuran setiap kunjungan, diastoliknya 90 mmHg atau lebih, atau sistoliknya 140 mmHg atau lebih. Sedangkan menurut 2 JNC VII (Seventh Join National Committee) 2003 tekanan darah pada orang dewasa dengan usia diatas 18 tahun diklasifikasikan menderita hipertensi stadium I apabila tekanan sistoliknya 140–159 mmHg dan tekanan diastoliknya 90–99 mmHg, stadium II apabila tekanan sistoliknya lebih 160 mmHg dan diastoliknya lebih dari 100 mmHg sedangkan hipertensi stadium III apabila tekanan sistoliknya lebih dari 180 mmHg dan tekanan diastoliknya lebih dari 116 mmHg (Suheni, 2007).
Tabel 2
Klasifikasi Pengukuran Tekanan Darah Orang Dewasa Dengan Usia Diatas 18 Tahun Menurut The Sixth Report Of The Joint National Committee On
Prevention Detection, Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure

Klasifikasi tekanan darah
Tekanan Sistolik dan Diastolik
(mmHg)
Normal
<120 dan <80
Prehipertensi
120-139 atau 80-89
Hipertensi Stadium I
140-159 atau 90-99
Hipertensi stadium II
>160 atau >100
Hipertensi stadium III
> 180 atau > 110
Sumber: Suheni, 2007
Tekanan darah tinggi pada umumnya didefinisikan sebagai tingkat yang melebihi 140/90 mmHg yang dikonfirmasikan pada berbagai kesempatan. Tekanan darah sisitolik, yang berupa angka yang diatas, mewakili tekanan dalam arteri saat jantung berkontraksi dan memompa darah ke dalam peredarannya. Tekanan diastolik, yang berupa angka bawah, mewakili tekanan dalam arteri saat jantung santai setelah kontraksi. Oleh karena itu tekanan diastolik mencerminkan tekanan minimal yang dikenakan pada arteri-arteri tersebut (Gardner, 2007:9). 
Klasifikasi hipertensi menurut kausanya dibagi menjadi dua sekunder dan primer (esensial). Hipertensi primer merupakan hipertensi yang penyebab spesifiknya tidak diketahui. Sekitar 30% penyebab hipertensi esensial dapat dikaitkan dengan faktor-faktor genetik. Sedangkan hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang penyebab tertentunya diketahui. Klasifikasi hipertensi menurut ganguan tekanan  darah dibagi menjadi dua yaitu sistolik dan diastolik. Hipertensi sistolik yaitu hipertensi yang disebabkan oleh peninggian tekanan darah sistolik saja sedangkan hipertensi diastolik yaitu hipertensi yang disebabkan oleh peninggian tekanan diastolik. Klasifikasi beratnya atau tingginya peningkata tekana darah dibagi menjadi tiga yaitu hipertensi ringan, hipertensi sedang dan hipertensi berat (Bustan, 2007:61).

1.        Patogenesis
Dimulai dengan atherosklerosis, gangguan struktur anatomi pembuluh darah peripher yang berlanjut dengan kekakuan pembuluh darah. Kekakuan pembuluh darah disertai dengan penyempitan dan kemungkinan pembesaran plaque yang menghambat gangguan peredaran darah peripher. Kekakuan dan kelambanan aliran darah menyebabkan beban jantung bertambah berat yang akhirnya dikompensasi dengan peningkatan upaya pemompaan jantung yang memberikan gambaran peningkatan tekanan darah dalam sistem sirkulasi (Bustan, 2007:61).
Menurut Beevers tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tekanan perifer. Berbagai faktor yang mempengaruhi curah jantung dan tekanan perifer akan mempengaruhi tekanan darah seperti asupan garam yang tinggi, faktor genetik, stres, obesitas, faktor endotel. Selain curah jantung dan tahanan perifer sebenarnya tekanan darah dipengaruhi juga oleh tebalnya atrium kanan, tetapi tidak mempunyai banyak pengaruh (Suheni, 2007).
2.        Tinjauan Tentang Faktor Risiko Hipertensi
a.         Faktor Keturunan atau Gen
Faktor-faktor genetika dianggap memainkan peranan penting dalam perkembangan hipertensi esensial. Namun demikian, gen-gen untuk hipertensi belum teridentifikasi (gen adalah kromosom sangat kecil yang menghasilkan protein-protein yang menentukan karakteristik individu). Penelitian terakhir dalam bidang ini difokuskan pada faktor-faktor genetik yang mempengaruhi sistem Renin-Angiostensin-Aldosterone. Sistem ini membantu mengatur tekanan darah dengan mengendalikan keseimbangan garam dan kesehatan (keadaan elastisitas) arteri (Gadner, 2007:14).
Sekitar 30 % penyebab hipertensi esensial dapat dikaitkan dengan faktor-faktor genetik. Pada orang-orang yang salah satu atau kedua orang tuanya menderita hipertensi, tekanan darah tinggi dua kali lebih tinggi pada populasi secara umum. Jarang sekali gangguan genetik tertentu yang tidak biasa yang mempengaruhi kelenjar-kelenjar adrenal bias menyebabkan hipertensi (Gadner, 2007:14).
b.        Faktor Berat Badan (Obesitas atau Kegemukan)
Ada hubungan antara berat badan dan hipertensi, bila berat badan meningkat di atas berat badan ideal maka risiko hipertensi juga meningkat. Penyelidikan epidemiologi juga membuktikan bahwa obesitas merupakan ciri khas pada populasi pasien hipertensi. Pada penyelidikan dibuktikan bahwa curah jantung dan volume darah sirkulasi pasien obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal dengan tekanan darah yang setara (Muhammadun, 2010:59).
Cara mudah untuk mengetahui termasuk obesitas atau tidak yaitu dengan mengukur Indeks Masa Tubuh (IMT) Rumus untuk IMT adalah berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan dikuadratkan (m2). Kategori ambang batas IMT untuk Indonesia menurut Depkes RI dalam Supariasa (2001:60) adalah sebagai berikut:






Tabel 3
Kategori Ambang Batas IMT


Kategori
IMT
Kurus
Kekurangan berat badan tingkat berat
Kekurangan berat badan tingkat ringan
< 17,0
17,0-18,5
Normal

18,5-25,0
Gemuk
(obesitas)
Kelebihan berat badan tingkat ringan
Kelebian berat badan tingkat berat
>25,0-27,0
<27
 Sumber:(Depkes RI dalam Supariasa 2001:61)
c.       Stres Kerja
Stress pada pekerjaan cenderung menyebabkan terjadinya hipertensi berat. Stress yang terlalu berat dapat memicu terjadinya berbagai penyakit misalnya sakit kepala, sulit tidur, tukak lambung, hipertensi, penyakit jantung dan stroke (Muhammadun, 2010:47).
d.      Faktor Jenis Kelamin (Gender)
Menurut Sustrani wanita penderita hipertensi diakui lebih banyak dari pada laki-laki. Tetapi wanita lebih tahan dari pada laki-laki tanpa kerusakan jantung dan pembuluh darah. Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi dari pada wanita. Pada pria hipertensi lebih banyak disebabkan oleh pekerjaan, seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan. Sampai usia 55 tahun pria beresiko lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan wanita. Menurut Edward D. Frohlich seorang pria dewasa akan mempunyai peluang lebih besar yakni satu di antara 5 untuk mengidap hipertensi (Suheni, 2007).
e.       Faktor Usia
Tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. Pada umumnya penderita hipertensi adalah orang-orang yang berusia 40 tahun namun saat ini tidak menutup kemungkinan diderita oleh orang berusia muda. Boedhi Darmoejo dalam tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa 1,8%-28,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi (Suheni, 2007).
Menurut Kaplon 1985 pria yang berusia < 45 tahun dinyatakan hipertensi jika tekanan darah berbanding 130/90 mmHg atau lebih, sedangkan yang berusia > 45 tahun dinyatakan hipertensi jika tekanan darah 145/95 mmHg atau lebih (Suheni, 2007).
f.       Faktor Asupan Garam
WHO (1990) menganjurkan pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari (sama dengan 2400 mg Natrium). Konsumsi garam memiliki efek langsung terhadap tekanan darah (Atmatsier, 2004:64).
Garam merupakan faktor penting dalam patogensis hipertensi. Asupan garam kurang dari 3 gram/hari prevalensi hipertensinya rendah, sedangkan asupan garam antara 5-15 gram/hari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20%. Pengaruh asupan terhadap hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah (Muhammad, 2010:70).
g.      Kebiasaan Merokok
Menurut Smith dan Tom kebiasaan merokok, minum-minuman beralkohol dan kurang olahraga serta bersantai dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Rokok mempunyai beberapa pengaruh langsung yang membahayakan jantung. Apabila pembuluh darah yang ada pada jantung dalam keadaan tegang karena tekanan darah tinggi, maka rokok dapat memperburuk keadaan tersebut. Merokok dapat merusak pembuluh darah, menyebabkan arteri menyempit dan lapisan menjadi tebal dan kasar (Suheni, 2007).
h.      Aktivitas Fisik (Olahraga)
Menurut Arjatmo dan Hendra kurangnya melakukan olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga bertambah akan memudahkan timbulnya hipertensi  (Suheni, 2007).
3.        Pengukuran Tekanan Darah
Menurut Sustrani tekanan darah diukur dengan menggunakan alat tensimeter (sphygmomanometer) dan steteskop. Ada tiga tipe dari spygmomanometer yaitu dengan menggunakan air raksa atau (merkuri), aneroid, dan elektronik. Tipe air raksa adalah jenis spygmomanometer yang paling akurat. Tingkat bacaan dimana detak tersebut terdengar pertama kali adalah tekanan sistolik. Sedangkan tingkat dimana bunyi detak menghilang adalah tekanan diastolik. Spygmomanometer aneroid prinsip penggunaanya yaitu menyeimbangkan tekanan darah dengan tekanan dalam kapsul metalis tipis yang menyimpan udara didalamnya (Suheni, 2007).
Sebelum mengukur tekanan darah yang harus diperhatikan yaitu :
a.       Jangan minum kopi atau merokok 30 menit sebelum pengukuran dilakukan.
b.      Duduk bersandar selama 5 menit dengan kaki menyentuh lantai dan tangan sejajar dengan jantung (istirahat).
c.       Pakailah baju lengan pendek.
d.      Buang air kecil dulu sebelum diukur, karena kandung kemih yang penuh dapat mempengaruhi hasil pengukuran.
Pengukuran tekanan darah sebaiknya dilakukan pada pasien setelah istirahat yang cukup, yaitu sesudah berbaring paling sedikit 5 menit. Pengukuran dilakukan pada posisi terbaring, duduk, dan berdiri sebanyak 2 kali atau lebih dengan interval 2 menit. Ukuran manset harus cocok dengan ukuran lengan atas. Manset harus melingkari paling sedikit 80 % lengan atas dan lebar manset paling sedikit 2/3 kali panjang lengan atas, pinggir bawah manset harus 2 cm diatas fosa cubiti untuk mencegah kontak dengan stetoskop (Gunawan, 2001:9).
4.        Kebiasaan Merokok
Merokok adalah mengisap gulungan tembakau yang dibungkus kertas (Kamus Besar bahasa Indonesia, 1990:752). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok adalah teman, kepribadian dan iklan (Muhammadun, 2010:64).
Menurut Smith dan Tom kebiasaan merokok, minum-minuman beralkohol dan kurang olahraga serta kurang bersantai dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Rokok mempunyai beberapa pengaruh langsung yang membahayakan jantung. Apabila pembuluh darah yang ada pada jantung dalam keadaan tegang karena tekanan darah tinggi, maka rokok dapat memperburuk keadaan tersebut. Merokok dapat merusak pembuluh darah, menyebabkan arteri menyempit dan lapisan menjadi tebal dan kasar (Suheni, 2007).
Menurut Mustafa dampak rokok akan terasa setelah 10–20 tahun pasca digunakan. Dampak asap rokok bukan hanya untuk si perokok aktif (Active smoker), tetapi juga bagi perokok pasif (Pasive smoker). Orang yang tidak merokok atau perokok pasif, tetapi terpapar asap rokok akan menghirup 2 kali lipat racun yang dihembuskan oleh perokok aktif. Bila sebatang rokok dihabiskan dalam sepuluh kali isapan maka dalam tempo setahun bagi perokok sejumlah 20 batang (1 bungkus) per hari akan mengalami 70.000 kali isapan asap rokok (Suheni, 2007).
Menurut Pdpersi (Pusat Data dan Informasi-Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) 2003 seseorang dikatakan perokok jika telah menghisap minimal 100 batang rokok. Merokok dapat mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat kita pungkiri, banyak penyakit yang telah terbukti menjadi akibat buruk merokok baik secara langsung maupun tidak langsung. Tembakau atau rokok paling berbahaya bagi kesehatan manusia. Rokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Menurut Departemen Kesehatan Dalam Gizi dan Promosi Masyarakat, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi rokok yang tinggi. Variasi produk dan harga rokok di Indonesia telah menyebabkan Indonesia menjadi salah satu produsen sekaligus konsumen rokok terbesar di dunia (Suheni, 2007).
Menurut Sitepoe rata- rata merokok yang dilakukan oleh kebanyakan laki-laki dipengaruhi oleh faktor psikologis meliputi rangsangan sosial melalui mulut, ritual masyarakat, menunjukkan kejantanan, mengalihkan diri dari kecemasan, kebanggaan diri. Selain faktor psikologis juga dipengaruhi oleh faktor fisiologis yaitu adiksi tubuh terhadap bahan yang dikandung rokok seperti nikotin atau juga disebut kecanduan terhadap nikotin (Suheni, 2007).
a.         Kategori Perokok
1)   Perokok Pasif
Perokok pasif adalah orang-orang yang tidak merokok, namun menjadi korban perokok karena turut menghisap asap sampingan (di samping asap utama yang dihembuskan balik oleh perokok) (Jaya, 2009:69). Menurut Wardoyo (1996) asap rokok yang dihembusan oleh perokok aktif dan terhirup oleh perokok pasif, lima kali lebih banyak mengandung karbon monoksida, empat kali lebih banyak mengandung tar dan nikotin (Suheni, 2007).
2)      Perokok Aktif
Menurut Bustan perokok aktif adalah asap rokok yang berasal dari isapan perokok atau asap utama pada rokok yang dihisap (mainstream). Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perokok aktif adalah orang yang merokok dan langsung menghisap rokok serta bisa mengakibatkan bahaya bagi kesehatan diri sendiri maupun lingkungan sekitar (Suheni, 2007).
b.    Jumlah Rokok Yang Dihisap
Jumlah rokok yang dihisap dapat dalam satuan batang, bungkus, pak per hari. Jenis perokok dapat dibagi atas 3 kelompok yaitu :
1)      Perokok Ringan
Disebut perokok ringan apabila merokok kurang dari 10 batang per hari.
2)      Perokok Sedang
Disebut perokok sedang jika menghisap 10 – 20 batang per hari.
3)      Perokok Berat
Disebut perokok berat jika menghisap lebih dari 20 batang (Bustan, 2007:210).
Menurut Sitepoe bila sebatang rokok dihabiskan dalam sepuluh kali hisapan asap rokok maka dalam tempo setahun bagi perokok sejumlah 20 batang (satu bungkus) per hari akan mengalami 70.000 hisapan asap rokok. Beberapa zat kimia dalam rokok yang berbahaya bagi kesehatan bersifat kumulatif (ditimbun), suatu saat dosis racunnya akan mencapai titik toksis sehingga akan mulai kelihatan gejala yang ditimbulkan (Suheni, 2007).
c.    Lama Menghisap Rokok
Berdasarkan survey yang dilakukan Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia tahun 2006 yang dilakukan terhadap remaja berusia 13-15 tahun, sebanyak 24,5 % remaja laki-laki dan 2,3 % remaja perempuan merupakan perokok, 3,2 % diantaranya sudah kecanduan bahkan, yang lebih mengkhawatirkan 3 dari 10 pelajar mencoba merokok sejak di bawah usia 10 tahun (Jaya, 2009:32).
Menurut Sitepoe merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 10–25 mmHg dan menambah detak jantung 5–20 kali per menit. Menurut Mustafa dampak rokok akan terasa setelah 10-20 tahun pasca digunakan. Dampak rokok bukan hanya untuk perok aktif tetapi juga perokok pasif (Suheni, 2007).
d.   Cara Menghisap Rokok
Cara manghisap rokok dapat dibedakan menjadi :
1)   Begitu menghisap langsung dihembuskan (secara dangkal)
2)   Ditelan sampai ke dalam mulut (dimulut saja).
3)   Ditelan sampai di kerongkongan (isapan dalam)
(Bustan, 2007:210)
e.    Jenis Rokok
Di Indonesia pada umumnya, rokok dibedakan menjadi beberapa jenis, perbedaan ini berdasarkan :
1)      Rokok berdasarkan pembungkus
Rokok berdasarkan pembungkus dibagi 4 yaitu klobot, kawung, sigaret dan cerutu. Klobot adalah rokok  yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung. Kawung adalah rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren. Sigaret adalah rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas. Cerutu adalah rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau.
2)   Rokok berdasarkan bahan baku
Berdasarkan bahan baku atau isi, rokok dibedakan menjadi 3 yaitu rokok putih, rokok kretek dan rokok klembak. Rokok putih adalah rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Rokok kretek adalah rokok yang bahan bakunya berupa daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Rokok klembak  adalah rokok yang bahan bakunya berupa daun tembakau, cengkeh dan kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
3)   Rokok berdasarkan proses pembuatannya
Berdasarkan proses pembuatannya, rokok dibedakan menjadi 2 yaitu Sigaret kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretet Mesin (SKM). Sigaret kretek Tangan (SKT) adalah rokok yang proses pembuatannya dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana. Sigaret Kretet Mesin (SKM) adalah rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin.
4)   Rokok berdasarkan penggunaan filter
Berdasarkan penggunaan filter, rokok dibedakan menjadi 2 yaitu Rokok Filter (RF) dan Rokok Non Filter (RNF). Rokok Filter (RF) adalah rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus. Rokok Non Filter (RNF) adalah rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus (Jaya, 2009:15). 
f.     Bahan – Bahan Yang Terkandung Dalam Rokok
Pada saat rokok dihisap komposisi rokok yang dipecah menjadi komponen lainnya, misalnya komponen yang cepat menguap akan menjadi asap bersama-sama dengan komponen lainnya terkondensasi. Dengan demikian komponen asap rokok yang dihisap oleh perokok terdiri dari bagian gas (85%) dan bagian partikel. Asap rokok terdiri dari 4000 bahan kimia dan 200 diantaranya bersifat racun antara lain Karbon Monoksida (CO) dan Polycylic Aromatic hydrocarbon yang mngandung zat-zat pemicu terjadinya kanker (seperti tar, byntopyrenes, vinylchlorida dan nitrosonornicotine) (Suheni, 2007).


Tabel 4
Daftar Bahan Kimia Yang Terdapat Dalam Asap Rokok Yang Dihisap

No
Bagian partikel
Bagian Gas
1.
2.
3.
4.
5.
Tar
Indol
Nikotin
Karbolzol
Kresol
Catatan:
Keseluruhan bersifat
karsinogen dan iritan serta
bersifat toksik yang lain
Karbon monoksida
Amoniak
Asam hydrocyanat
Nitrogen oksida
Formaldehid
Catatan:
Keseluruhan zat ini bersifat
karsinogen, mengiritasi, racun
bulu getar alat pernapasan, dan
sifat racun yang lain.
 Sumber: Suheni, 2007
Komponen ini paling banyak dijumpai di dalam rokok, nikotin bersifat toksik terhadap saraf dengan stimulasi atau depresi. Nikotin merupakan aikaloid yang bersifat stimulan dan pada dosis tinggi beracun. Zat ini hanya ada dalam tembakau, sangat aktif dan mempengaruhi otak/susunan saraf. Dalam jangka panjang, nikotin akan menekan kemampuan otak untuk mengalami kenikmatan, sehingga perokok akan selalu membutuhkan kadar nikotin yang semakin tinggi untuk mencapai tingkat kepuasan dan ketagihannya. Sifat nikotin yang adiktif ini dibuktikan dengan jarang adanya jumlah perokok yang ingin berhenti merokok dan jumlah yang berhasil berhenti (Suheni, 2007).
1.    Stres Kerja
Menurut Dr. Peter Tyler stress adalah perasaan tidak enak yang disebabkan oleh persoalan-persoalan di luar kendali kita, atau reaksi jiwa dan raga terhadap perubahan (Lubis, 2009:17).
Sementara itu, Kamus Psikologi karya Dr. Kartini Kartono dan Dali Gulo  mendefinisikan stres sebagai berikut :
a.          Suatu stimulus yang menegangkan kapasitas (daya) psikologi atau fisiologi dari suatu organisme.
b.         Sejenis frustasi, dimana aktivitas yang terarah pada pencapaian tujuan telah diganggu atau dipersulit, tetapi tidak terhalang-halangi; peristiwa ini biasanya disertai oleh perasaan was-was (khawatir) dalam pencapaian tujuan.
c.          Kekuatan yang ditetapkan pada suatu sistem berupa tekanan-tekanan fisik dan psikologis yang dikenakan pada tubuh dan pada pribadi.
Suatu kondisi ketegangan fisik dan psikologis disebabkan oleh adanya persepsi ketakutan dan kecemasan (Lubis, 2009:17)
Menurut Lazarus, stress merupakan bentuk interaksi antara individu dengan lingkungannya, yang dinilai individu sebagai sesuatu yang membebani atau melampaui kemampuan yang dimilikinya, serta mengancam kesejahteraannya. Dengan kata lain, stress merupakan fenomena individual dan menunjukkan respon individu terhadap tuntutan lingkungan (Lubis, 2009:17).
Gejala terjadinya stress secara umum terdiri dari dua gejala yaitu gejala fisik dan gejala psikis. Beberapa bentuk gangguan fisik yang sering muncul pada stress adalah nyeri dada, diare selama beberapa hari, sakit kepala, mual, jantung berdebar, lelah dan sukar tidur. Sementara bentuk gangguan psikis yang sering terlihat adalah cepat marah, ingatan melemah, tak mampu berkonsentrasi, tidak mampu menyelesaikan tugas, prilaku impulsive, reaksi berlebihan terhadap hal sepele, daya kemampuan berkurang, tidak mampu santai pada saat yang tepat, tidak tahan terhadap suara atau gangguan lain dan emosi tidak terkendali (Hidayat, 2009:156).
Stres pada pekerjaan cenderung menyebabkan terjadinya hipertensi berat. Stres yang terlalu berat dapat memicu terjadinya berbagai penyakit misalnya sakit kepala, sulit tidur, tukak lambung, hipertensi, penyakit jantung dan stroke (Muhammadun, 2010:47).
Menurut Smet dan Bart hampir semua orang di dalam kehidupan mereka mengalami stres berhubungan dengan pekerjaan mereka. Hal ini dapat dipengaruhi karena tuntutan kerja yang terlalu banyak (bekerja terlalu keras dan sering kerja lembur) dan jenis pekerjaan yang harus memberikan penilaian atas penampilan kerja bawahannya atau pekerjaan yang menuntut tanggungjawab bagi manusia. Stres pada pekerjaan cenderung menyebabkan hipertensi berat. Sumber stres dalam pekerjaan (stressor) meliputi beban kerja, fasilitas kerja yang tidak memadai, peran dalam pekerjaan yang tidak jelas, tanggungjawab yang tidak jelas, masalah dalam hubungan dengan orang lain, tuntutan kerja dan tuntutan keluarga (Suheni, 2007).
Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya, beban yang dimaksud adalah fisik, mental atau sosial. Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hubungannya dengan beban kerja. Mungkin diantara mereka lebih cocok untuk beban fisik, mental atau sosial. Namun sebagai persamaan yang umum, mereka hanya mampu memikul beban sampai suatu saat tertentu. Bahkan ada beban yang dirasa optimal bagi seseorang. Inilah maksud penempatan seorang tenaga kerja yang tepat pada pekerjaan yang tepat atau pemilihan tenaga kerja tersehat untuk pekerjaan yang tersehat pula. Derajat tepat suatu penempatan meliputi kecocokan pengalaman, keterampilan dan motivasi (Suma’mur, 1996:48).
Kapasitas kerja adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya pada waktu tertentu. Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan sangat tergantung kepada ketrampilan, keserasian (=fittness), keadaan gizi, jenis kelamin, usia dan ukuran-ukuran tubuh. Semakin tinggi keterampilan kerja yang dimiliki, semakin effisien badan dan jiwa bekerja, sehingga beban kerja menjadi relative sedikit. Kesegaran jasmani dan rohani adalah penunjang penting produktivitas seseorang dalam kerjanya. Kesegaran jasmani dan rohani tidak saja pencerminan kesehatan fisik dan mental, tetapi juga gambaran keserasian penyesuaian seseorang dengan pekerjaanya, yang banyak dipengaruhi oleh kemampuan, pengalaman, pendidikan dan pengetahuan yang dimilikinya. Tingkat gizi, terutama bagi pekerja kasar dan berat adalah faktor penentu derajat produktifitas kerjanya. Beban kerja yang terlalu berat sering disertai penurunan berat badan (Suma’mur, 1996:50).
Waktu kerja bagi seseorang menentukan kesehatan yang bersangkutan, efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerjanya. Aspek terpenting dalam hal waktu kerja meliputi lama seseorang mampu bekerja dengan baik, hubungan antara waktu kerja dan istirahat, waktu bekerja sehari menurut periode waktu yang meliputi siang hari (pagi, siang, sore) dan malam hari. Jam kerja yang diharuskan adalah 6-10 jam setiap harinya. Sisanya (14-18 jam setiap harinya) digunakan untuk keluarga dan masyarakat, istirahat, tidur, dan lain-lain. Dalam satu minggu seseorang bekerja dengan baik selama 40-50 jam, lebih dari itu terlihat kecenderungan yang negatif seperti kelelahan kerja, penyakit dan kecelakaan kerja (Suma’mur, 2009: 362).
2.    Hubungan Kebiasaan Merokok Dengan Kejadian Hipertensi
Nikotin dalam tembakau adalah penyebab tekanan darah meningkat segera setelah menghisap hisapan pertama. Nikotin terserap oleh pembuluh darah yang kecil dalam paru-paru dan disebarkan ke seluruh aliran darah. Hanya dibutuhkan waktu 10 detik bagi nikotin untuk sampai ke otak. Otak bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal kepada kelenjar adrenal untuk melepaskan Epinephrine (adrenaline). Hormon yang sangat kuat ini menyempatkan pembuluh darah, sehingga memaksa jantung untuk memompa lebih keras di bawah tekanan yang lebih tinggi (Gardner, 2007:41).
Setelah merokok dua batang rokok saja, tekanan sistoli dan tekanan diastolik meningkat rata-rata 10 mmHg. Tekanan darah tetap pada tingkat ini sekitar 30 menit setelah selesai merokok. Saat efek nikotin hilang, tekanan darah berangsur-angsur turun. Namun demikian, jika anda perokok berat, tekanan darah tetap pada tingkat yang lebih tinggi sepanjang hari (Gardner, 2007:41).
Di samping meningkatkan pelepasan adrenalin, merokok juga menimbulkan berbagai efek lain yang merugikan. Bahan-bahan kimia dalam tembakau dapat merusak dinding-dinding dalam arteri, sehingga membuatnya lebih rentan terhadap akumulasi kolestrol yang mengandung endapan-endapan lemak (plak) yang menyebabkan penyempitan pada arteri. Tembakau juga memicu pelepasan hormon-hormon yang menyebabkan tubuh mempertahankan cairan. Kedua faktor ini, penyempitan arteri dan peningkatan cairan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi (Gardner, 2007:42).
3.    Hubungan Stress kerja Dengan Kejadian Hipertensi
Hormon adrenaline dan kortisol yang dilepaskan selama periode stress meningkatkan tekanan darah dengan menyebabkan vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah) dan meningkatkan detak jantung (Gadner, 2007:60).
Peningkatan tekanan darah yang disebabkan oleh stress berbeda-beda. Pada setiap orang, stress menyebabkan hanya sedikit peningkatan tekanan darah. Pada sebagian orang yang lain stress dapat menyebabkan lompatan-lompatan yang ekstrem dalam tekanan darah. Meskipun efek stres biasanya hanya bersifat sementara, jika mengalami stress secara teratur, peningkatan tekanan darah yang ditimbulkannya, suatu waktu, dapat merusak arteri, jantung, otak, ginjal dan mata kita, persis sebagaimana hanya dengan tekanan darah tinggi yang terus-menerus (Gadner, 2007:60).
Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis yang merangsang pengeluaran hormon adrenalin. Hormon ini dapat menyebabkan jantung berdenyut lebih cepat dan menyebabkan penyempitan kapiler darah tepi. Hal ini dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Saraf simpatis di pusat saraf pada orang stress atau mengalami tekanan mental bekerja keras. Biasa dimaklumi mengapa orang yang stress atau mengalami tekanan mental jantungnya berdebar-debar dan mengalami peningkatan tekanan darah. Hipertensi akan mudah muncul pada orang yang sering stress dan mengalami ketegangan pikiran yang berlarut-larut (Muhannadun, 2010:57).

baca selengkapnya pada link di bawah ini :
http://www.scribd.com/doc/49996298/Pengaruh-Kebiasaan-Merokok-Dan-Stres-Kerja-Terhadap-Kejadian-Hipertensi-Pada-Petugas-Bandara-Usia-40-Tahun-Keatas-Di-Sentani-Tahun-2010









Mengenai Saya

Foto Saya
Retno, seorang anak muda yang menyukai dan mencoba mendalami dunia web ingin berbagi pengetahuan lewat blog ini ...