Kamis, 16 Juni 2011

Pengukuran Masalah Malaria

Penyakit Malaria masih endemis di Indonesia, namun tidak seluruh provinsi dan kabupaten memiliki masalah malaria. Masyarakat yang sering bepergian/melancong perlu mengetahui apakah wilayah yang akan dikunjunginya merupakan daerah berisiko/endemis malaria atau tidak, untuk itu dapat dilihat pada daftar daerah risiko malaria. Bagi para Akademisi dan Petugas Kesehatan yang akan melakukan intervensi di suatu daerah malaria, dengan mengetahui tingkat risiko saja mungkin belum cukup, perlu diketahui pula seberapa besar masalah malaria di wilayah tersebut. Untuk dapat mengetahui ukuran besarnya masalah malaria yang terdapat pada sekelompok manusia (populasi) di suatu wilayah dengan tepat, ada 2 hal pokok yang harus dilakukan yaitu: menemukan penyakit malaria (disebut juga penemuan penderita) di masyarakat dan melakukan pengukuran atas penyakit tersebut.  

Penemuan Penderita Malaria
di Masyarakat
Penemuan penderita adalah suatu upaya untuk menemukan penderita malaria secara dini agar dapat segera diobati secara tepat.
Untuk menemukan penderita malaria di masyarakat, ada 3 jenis kegiatan yang dapat dilakukan yaitu: Active Case Detection (ACD), Pasive Case Detection (PCD), dan survei malaria.

1. Active Case Detection (ACD)
Penemuan penderita malaria secara aktif melalui kunjungan ke rumah-rumah penduduk yang menderita malaria klinis (tersangka malaria) oleh petugas terlatih, dengan cara pengambilan sediaan darah tebal (untuk diperiksa di Puskesmas) dan memberikan pengobatan kepada penderita malaria yang ditemukan.

2.
 Pasive Case Detection (PCD)
Penemuan penderita malaria secara pasif dengan cara menunggu kunjungan penderita di Unit Pelayanan Kesehatan.

3. Survei Malaria
Kegiatan survei malaria terdiri dari:

a. 
Malariometric Survey (MS)
Malariometric survey adalah suatu kegiatan pemeriksaan sediaan darah jari dan limpa pada penduduk kelompok usia 0-9 tahun untuk melihat tingkat endemisitas dan prevalensi malaria di suatu wilayah pada waktu tertentu.

Ada dua macam MS sesuai dengan tujuannya, yaitu :
  1. Survei Malariomerik Dasar (MSD).
  2. Survei Malariometrik Evaluasi (MSE).
Survei Malariometrik Dasar (MSD)
Suatu MS yang dilakukan untuk mengukur tingkat endemisitas di suatu daerah dengan cara memeriksa pembesaran limpa pada populasi anak golongan umur 2 – 9 tahun dan mengetahui prevalensi malaria dengan cara memeriksa sediaan darah pada populasi anak golongan umur 0 – 9 tahun.
 
Survei Malariometrik  Evaluasi (MSE)
Suatu MS yang dilakukan untuk mengukur tingkat prevalensi malaria di suatu daerah dengan cara memeriksa sediaan darah pada populasi anak golongan umur 0 – 9 tahun.

b.
Mass Fever survey (MFS)
Merupakan salah satu upaya penemuan penderita malaria melalui survei yang ditujukan pada seluruh penduduk di suatu wilayah yang mempunyai gejala demam.

c. Mass Blood Survey (MBS)
Suatu kegiatan penemuan penderita dalam waktu yang singkat, dilakukan melalui pemeriksaan sediaan darah terhadap semua penduduk di desa/dusun endemis malaria tinggi yang penduduknya tidak menunjukkan gejala malaria klinis yang nyata. Pengobatan radikal diberikan kepada seluruh penderita positif malaria yang ditemukan.

Parameter yang dikumpulkan pada survei malariometrik adalah:
a. Parasite Rate (PR)
Parasite Rate adalah persentase penduduk kelompok usia 0-9 tahun yang darahnya mengandung parasit malaria pada saat tertentu. PR untuk kelompok usia bayi (0-1 tahun) disebut Infant Parasite Rate (IPR). Bila IPR bernilai nol selama 3 tahun berturut-turut, dapat dianggap tidak adanya transmisi lokal asalkan survei dilakukan setiap tahun dan cukup banyak sediaan darah yang diambil dan diperiksa.

b. Spleen Rate (PR)
Spleen Rate adalah persentase penduduk kelompok usia 0-9 tahun yang limpanya teraba membesar.
Besarnya limpa dinyatakan berdasarkan klasifikasi Hacket sebagai berikut:
- H.0 : Limpa tidak teraba pada inspirasi (menarik nafas) maksimal.
- H.1 : Limpa teraba pada inspirasi maksimal.
- H.2 : Limpa teraba tetapi proyeksinya tidak melebihi garis horizontal yang diterik melalui pertengahan arcus costae (lengkung tulang iga) dan umbilicus (pusar) pada garis mamilaris (garis yang melalui puting susu) kiri.
- H.3 : Limpa teraba di bawah garis horizontal melalui umbilicus.
- H.4 : Limpa teraba di bawah garis horozontal pertengahan antara umbilicus dan symphisis pubis (tulang kemaluan).
- H.5 : Limpa teraba di bawah garis H.4.


Gambar derajat pembesaran limpa menurut klasifikasi Hacket.
Sumber: http://en.impact-malaria.com/

Ukuran Penyakit Malaria
Ada beberapa macam ukuran yang dapat digunakan untuk menggambarkan besarnya masalah malaria (endemisitas) pada di suatu daerah, yang sering digunakan di Indonesia adalah: Annual Malaria Incidence (AMI) dan Annual Parasite Incidence (API). Sebelum tahun 2007, AMI sebagai ukuran tingkat kesakitan malaria masih banyak dipakai di luar pulau Jawa dan Bali pada daerah-daerah yang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan laboratorium di tingkat Puskesmas, sehingga masih mengandalkan gejala klinis dalam mendiagnosis penyakit malaria. Pada masa kini, yang dipakai adalah ukuran API karena pada umumnya Puskesmas sudah memiliki fasilitas pemeriksaan laboratorium malaria.

a. Annual Malaria Incidence (AMI)
Annual Malaria Incidence adalah angka kesakitan malaria (malaria berdasarkan gejala klinis) per 1000 penduduk dalam 1 tahun yang dinyatakan dalam permil (‰).

Rumus:   Jumlah penderita malaria klinis      X 1000 ‰
                           Jumlah penduduk



Keterangan:
Yang dimaksud jumlah penderita malaria klinis adalah jumlah kasus malaria klinis yang ditemukan melalui kegiatan ACD dan PCD di suatu wilayah (Kecamatan, Kabupaten, Provinsi) selama 1 tahun. Yang dimaksud jumlah penduduk adalah jumlah penduduk (seluruh kelompok umur) yang tinggal di wilayah tersebut pada pertengahan tahun (bulan juni).

Kegunaan AMI: untuk mengetahui insiden malaria klinis pada satu daerah tertentu selama satu tahun.

b. Annual Parasite Incidence (API)
Annual Parasite Incidence adalah angka kesakitan malaria (berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium) per 1000 penduduk dalam 1 tahun dinyatakan dalam permil (‰).


Rumus:    Jumlah penderita positif malaria     X 1000 ‰
                             Jumlah penduduk

Keterangan:
Yang dimaksud jumlah penderita positif malaria adalah jumlah kasus malaria yang dikonfirmasi positif melalui pemeriksaan mikroskopik (Sediaan Darah Malaria) maupun tes diagnostik cepat / Rapid Diagnostic Test (RDT) yang ditemukan melalui kegiatan ACD dan PCD di suatu wilayah (Kecamatan, Kabupaten, Provinsi) selama 1 tahun. Yang dimaksud jumlah penduduk adalah jumlah penduduk (seluruh kelompok umur) yang tinggal di wilayah tersebut pada pertengahan tahun (bulan juni).

Kegunaan API: untuk mengetahui insiden penyakit malaria pada satu daerah tertentu selama satu tahun.

c. Annual Blood Examination Rate (ABER)
Annual Blood Examination Rate adalah jumlah rata-rata pemeriksaan sediaan darah malaria dibandingkan dengan jumlah penduduk dalam 1 tahun yang dinyatakan dalam persen (%).

Rumus:     Jumlah sediaan darah malaria yang diperiksa    X 100 %
                                         Jumlah penduduk

Keterangan:
Yang dimaksud jumlah sediaan darah malaria yang diperiksa adalah jumlah sediaan darah (slide) malaria yang diambil dan diperiksa yang ditemukan melalui kegiatan ACD dan PCD di suatu wilayah (Kecamatan, Kabupaten, Provinsi) selama 1 tahun. Yang dimaksud jumlah penduduk adalah jumlah penduduk (seluruh kelompok umur) yang tinggal di wilayah tersebut pada pertengahan tahun (bulan juni).

Kegunaan ABER: untuk mengukur efisiensi operasional dan menilai API. Penurunan API semakin bermakna bila disertai peningkatan ABER. Oleh karena itu adanya penurunan API yang disertai penurunan ABER belum dapat diartikan sebagai penurunan insiden malaria. Untuk daerah endemis malaria, WHO merekomendasikan jumlah Sediaan Darah (slide) Malaria yang diperiksa perbulan minimal 1% dari jumlah penduduk di daerah tersebut.

d. Slide Positivity Rate (SPR)
Slide Positivity Rate adalah persentase sediaan darah (slide) malaria  yang dikonfirmasi positif dibandingkan dengan jumlah seluruh slide yang diperiksa di suatu daerah yang dinyatakan dalam persen (%).

Rumus:              Jumlah slide malaria positif                   X 100 %
                     Jumlah slide malaria yang diperiksa

Keterangan:
Yang dimaksud jumlah slide malaria positif adalah jumlah sediaan darah (slide) malaria yang dikonfirmasi positif yang ditemukan melalui kegiatan ACD dan PCD di suatu wilayah (Kecamatan, Kabupaten, Provinsi) selama 1 bulan atau 1 tahun. Yang dimaksud jumlah slide malaria yang diperiksa adalah jumlah seluruh slide malaria yang diambil dan diperiksa dari penduduk yang ditemukan melalui kegiatan ACD dan PCD di suatu wilayah (Kecamatan, Kabupaten, Provinsi) selama 1 bulan atau 1 tahun.

Kegunaan SPR: untuk menilai API. Peningkatan SPR biasanya diikuti peningkatan API. Angka SPR lebih bermakna bila ABER tinggi.

e. Parasite Formula (PF)
Parasite Formula adalah proporsi setiap parasit malaria di suatu daerah.

Ada empat jenis spesies parasit malaria di dunia yang dapat menginfeksi sel darah merah manusia dan menyebabkan jenis penyakit malaria yang berbeda, yaitu: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Lihat disini.
Spesies malaria yang mempunyai PF tertinggi di suatu wilayah disebut spesies dominan untuk wilayah tersebut.

Endemisitas Malaria
Besarnya masalah dan tingkat transmisi malaria di berbagai daerah di Indonesia sangat bervariasi. Untuk membedakan besarnya tingkat transmisi malaria di suatu wilayah (misal: Provinsi, Kabupaten/kota, Puskesmas, Desa) di tanah air, dibuat pembagian berdasarkan besarnya angka API atau AMI daerah tersebut, yaitu:
- Daerah endemis rendah: daerah dengan angka API <1 ‰ atau AMI <25 ‰.
- Daerah endemis sedang: daerah dengan angka API 1-5 ‰ atau AMI 25-50 ‰.
- Daerah endemis tinggi: daerah dengan angka API >5 ‰ atau AMI >50 ‰.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Retno, seorang anak muda yang menyukai dan mencoba mendalami dunia web ingin berbagi pengetahuan lewat blog ini ...