Kamis, 03 Maret 2011

Mari Mengenal Malaria Papua ...

Malaria di Papua dan Cara Mencegahnya

Jenis penyakit apa malaria itu? Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus plasmodium. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin atau obat yang efektif bisa menyembuhkan malaria secara total. Malaria dapat menyerang mulai dari hewan melata, pengerat, primata hingga burung dan manusia. Ada empat jenis malaria oleh spesies perantara yang berbeda yaitu malaria tertiana yang disebabkan plasmodium vivax, malaria tropika yang disebabkan plasmodium falciparum, malaria kuartana yang disebabkan plasmodium malariae dan malaria yang disebabkan plasmodium ovale yang gejalanya mirip dengan malaria tertiana namun jarang ditemukan di Indonesia.

Bagimana penularannya? Malaria menular dengan pembawa nyamuk Anopheles. Nyamuk betina menggigit pasien yang menderita malaria. Darah yang diisapnya mengandung virus dan melalui beberapa taraf perkembangan di dalam tubuh nyamuk hingga akhirnya memasuki kelenjar air liur nyamuk. Virus 'bersemayam' menunggu kesempatan untuk memasuki aliran darah pada pasien berikut yang digigit nyamuk pembawa virus yang menularkan sporozoit dari jaringan ludahnya ketika menggigit ke jaringan darah dan hati.

Parasit ini langsung membentuk stadium awal di sel hati, kemudian ke jaringan darah dan kemudian melanjutkan siklus hidup dalam tubuh nyamuk dimana sporozoit selanjutnya akan kembali berpindah ke kelenjar liur nyamuk untuk ditularkan kembali ke manusia.  Pada manusia parasit berdiam di hati untuk berubah menjadi merozoites. Kemudian masuk ke aliran darah, menginfeksi sel darah merah serta berkembang biak. Masa inkubasi umumnya berlangsung 10-14 hari, kemudian timbul gejala. Namun, bisa terjadi gejala muncul setahun kemudian.

Sel darah yang terinfeksi akan berlekatan dengan molekul-molekul pada sel endotel di jaringan tubuh manusia dan bila terjadi dalam jumlah banyak akan terjadi sekuestrasi yakni terhambatnya aliran darah yang membawa oksigen ke jaringan dan organ tubuh manusia.

Kira-kira sepuluh hari pasca gigitan nyamuk, virus malaria masuk ke dalam aliran darah. Virus kemudian tumbuh dan mengganti semua hemoglobin di dalam sel darah merah. Meskipun hanya satu virus yang menyerang setiap satu sel, tiap virus terus berkembang biak. Ketika sel darah pecah, kembali virus dilepaskan untuk memulai serangan terhadap sel-sel merah yang lain. Siklus itu berlangsung setiap 2 -3 hari.

Diagnosis malaria dipastikan lewat pemeriksaan darah untuk melihat parasit di bawah mikroskop. Hal ini memerlukan keterampilan petugas laboratorium untuk mendeteksi. Selain itu kini ada pemeriksaan serologi cepat dengan kromatografi, namun lebih mahal.

Bagaimana pencegahannya? Bagi orang yang hendak berkunjung ke daerah endemik malaria, agar tak tertular dianjurkan mengonsumsi chloroquin tablet 300 mg satu kali seminggu dimulai satu minggu sebelum berangkat sampai empat minggu setelah pulang. Hal ini untuk memastikan tidak ada parasit yang berkembang di masa inkubasi, kita masih terlindungi oleh obat tersebut.

Di daerah yang parasitnya telah resisten terhadap chloroquin bisa digunakan doksisiklin tablet 100 mg satu kali seminggu dengan cara sama. "Makan obatnya harus setelah makan agar tidak terjadi iritasi lambung.

Alternatif lain adalah tablet kina atau primakuin. Namun, primakuin tidak boleh dikonsumsi ibu hamil karena bisa memengaruhi pertumbuhan janin.

Yang perlu diperhatikan, obat tidak 100 persen melindungi dari malaria. Karenanya, menghindari gigitan nyamuk tetap yang terbaik, di daerah endemik malaria. Upaya yang tidak mudah, namun bisa dicoba, dengan memakai baju lengan panjang pada sore dan malam hari, menghindari baju warna gelap (nyamuk suka warna gelap), memakai lotion anti nyamuk, berdiam dalam rumah berkasa nyamuk saat petang, tidur di bawah kelambu (bed nets) dan penyemprotan rumah dengan insektisida.

Bagaimana gejala malaria? Secara keseluruhan gejala yang sering muncul adalah sakit kepala, nyeri otot, lesu, diare, meriang (panas, dingin dan menggigil) serta demam berkepanjangan sehingga sering juga disebut demam kura-kura karena membuat penderitanya meringkuk karena menggigil. Gejala serangan malaria ini terdiri dari beberapa jenis berupa gejala klasik yang sering menyerang penderita tanpa imunitas dan baru pertama kali terserang dengan tanda menggigil 15-60 menit diikuti demam 2-6 jam dengan suhu 37,5-40 derajat Celcius bahkan lebih, kemudian berkeringat selama 2-4 jam akibat gangguan metabolisme tubuh yang menyebabkan peningkatan keringat dan sebelum ulangan gejala berikutnya penderita biasanya merasa enak setelah berkeringat. Gejala berulang tiap 48-72 jam sesuai dengan peluruhan sel darah merah. Pada malaria yang lebih parah terdapat anemia dan kuning. Plasmodium falciparum bisa menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, gagal ginjal, koma, bahkan kematian dengan serangan yang paling sering meluas ke berbagai organ tubuh lain serta memunculkan komplikasi.

Penderita yang sudah memiliki imunitas biasanya bisa menemukan gejala ini tidak berurutan. Pada program pemberantasan, gejalanya bisa diikuti dengan sekumpulan gejala lain seperti sakit kepala, mual, muntah, diare hingga nyeri otot yang serius.

Selain itu juga dikenal gejala malaria berat yang dapat meliputi gangguan kesadaran, kejang, warna kuning pada mata-tubuh dan urin, panas yang sangat tinggi, sesak hingga perdarahan hidung, gusi dan saluran pencernaan serta rasa lumpuh.

Bila mengenai jaringan otak yang disebut dengan malaria serebral, akan terjadi kerusakan otak yang biasanya fatal. Pada malaria yang disebabkan Plasmodium vivax dan ovale sebagian parasit akan tertanam dalam jaringan hati sebelum sempat melanjutkan siklus hidupnya dalam jaringan darah dan berpotensi menyebabkan kasus-kasus relaps saat tubuh penderita kehilangan daya tahan tubuh walaupun tanpa adanya gigitan nyamuk.

Pada infeksi Plasmodium vivax atau Plasmodium ovale untuk menjaga agar tidak kambuh, pengobatan dikombinasi dengan primakuin satu tablet tiap hari selama 14 hari. Tujuannya untuk mematikan parasit malaria pada stadium hypnozoit, saat parasit malaria tidak aktif dan bersembunyi di sel hati. Sewaktu-waktu parasit bisa aktif dan menyebabkan kambuh.

Pada Plasmodium falciparum tidak ada bentuk sel tidak aktif. Namun, untuk mencegah penularan lebih lanjut, penderita di daerah endemik perlu mengonsumsi primakuin tiga tablet sekaligus untuk mensterilkan parasit. Jika ada nyamuk Anopheles yang mengisap darahnya, parasit tak bisa berkembang biak.

Malaria tertiana merupakan bentuk paling ringan dengan gejala demam setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi, malaria tropika yang paling sering menyebabkan kematian sering muncul dengan gejala serius karena terhalangnya jalan darah ke otak, dan malaria kuartana yang memiliki masa inkubasi terlama dari 18-40 hari setelah terinfeksi.

Apa obatnya? Sejak ditemukannya getah batang pohon cinchona yang kini dikenal sebagai kina, perkembangan pengobatan malaria sudah dimulai. Zat dalam kina yang sebenarnya cukup toksik ini ternyata bisa menekan pertumbuhan protozoa dalam jaringan darah.

Perkembangan pengobatan ini kemudian menemukan chloroquin yang jauh lebih efektif menekan penyakit dengan pemakaian terbatas dan juga tidak se-toksik obat-obatan sebelumnya. Hambatan yang masih dijumpai adalah resistensi terhadap klorokuin yang ditemukan pada beberapa strain penyebab penyakit belakangan ini, namun juga sudah ditemukan beberapa obat sebagai alternatif terhadap resistensi ini walau belum meluas penggunaannya serta masih memerlukan uji efektifitas dan toksisitas selanjutnya.

Beberapa obat juga ada yang ditujukan sebagai tindakan pencegahan terutama terhadap orang-orang yang berkunjung atau masuk ke daerah endemis, walaupun belum terbukti sepenuhnya efektif. Dari sisi vaksinasi sendiri, para ahli masih berusaha menemukan vaksin yang benar-benar memenuhi syarat secara uji klinis menyangkut keamanan dan keefektifannya.

Perawatan bagi pasien pengidap malaria adalah pemberian obat-obat antimalaria semacam chloroquine atau amodiaquine. Sedapat mungkin penderita mengonsumsi lebih banyak cairan, sari buah yang segar dan makanan yang seimbang.

Apa dampak malaria terhadap ekonomi dan pendidikan? Akibat penyakit malaria juga sangat merugikan perekonomian. Termasuk kehilangan pendapatan akibat hilangnya investasi bisnis dan pariwisata daerah endemik. Hubungan malaria dengan kemiskinan sekaligus sebagai penyebab dan akibat yaitu adanya hambatan finansial dan budaya untuk mencegah dan mengobati malaria secara tepat dan efektif. Malaria bisa merupakan salah satu sebab rendahnya pencapaian akademis di Papua karena orang yang pernah mengidap malaria lebih dari sekali dan tidak berobat tuntas tidak bisa bekerja secara normal karena kadar hemoglobin darah yang rendah, sehingga cepat lelah, mengantuk dan malas. Orang yang tinggal di Papua sebagian besar pernah mengidap penyalit malaria dan virus akan tetap berdiam pada tubuhnya, sewaktu-waktu bisa aktif kembali. Mereka cenderung tidak mau bekerja keras karena sudah menjadi pemahaman umum atau mungkin terjadi salah kaprah bahwa malaria dapat dicegah dengan bekerja tidak sampai lelah, jangan telat makan (perut jangan kosong), jangan kurang tidur, jangan stress dan jangan kurang gizi.  Kenyataan memang begitu, semua yang kami temui mengiyakan pemahaman tersebut, buktinya setelah dipindah ke Papua para pegawai pendatang tambah berat badan karena makan dan tidur banyak sedangkan kerjanya sedikit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Retno, seorang anak muda yang menyukai dan mencoba mendalami dunia web ingin berbagi pengetahuan lewat blog ini ...