Kamis, 03 Maret 2011

ANOPHELES ...

1. Klasifikasi Nyamuk Anopheles
Urutan penggolongan klasifikasi nyamuk Anopheles seperti binatang
lainnya adalah sebagai berikut 
Phylum : Arthropoda
Classis : Hexapoda / Insecta
Sub Classis : Pterigota
Ordo : Diptera
Familia : Culicidae
Sub Famili : Anophellinae
Genus : Anopheles
Spesies Anopheles
Ada beberapa spesies Anopheles yang penting sebagai vektor malaria
di Indonesia antara lain :
a. Anopheles sundauicus
Spesies ini terdapat di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan
Bali. Jentiknya ditemukan pada air payau yang biasanya terdapat
tumbuh–tumbuhan enteromopha, chetomorpha dengan kadar garam
adalah 1,2 sampai 1,8 %. Di Sumatra jentik ditemukan pada air tawar
seperti di Mandailing dengan ketinggian 210 meter dari permukaan air
laut dan Danau Toba pada ketinggian 1000 meter.
b. Anopheles aconitus
Di Indonesia nyamuk ini terdapat hampir di seluruh kepulauan,
kecuali Maluku dan Irian. Biasanya terdapat dijumpai di dataran rendah
tetapi lebih banyak di daerah kaki gunung pada ketinggian 400–1000
meter dengan persawahan bertingkat. Nyamuk ini merupakan vektor
pada daerah–daerah tertentu di Indonesia, terutama di Tapanuli, Jawa
Barat, Jawa Tengah, dan Bali.
c. Anopheles barbirostris
Spesies ini terdapat di seluruh Indonesia, baik di dataran tinggi
maupun di dataran rendah. Jentik biasanya terdapat dalam air yang
jernih, alirannya tidak begitu cepat, ada tumbuh–tumbuhan air dan pada
tempat yang agak teduh seperti pada tempat yang agak teduh seperti
pada sawah dan parit.
d. Anopheles kochi
Spesies ini terdapat diseluruh Indonesia, kecuali Irian. Jentik
biasanya ditemukan pada tempat perindukan terbuka seperti genangan
air, bekas tapak kaki kerbau, kubangan, dan sawah yang siap ditanami.
e. Anopheles maculatus
Penyebaran spesies ini di Indonesia sangat luas, kecuali di Maluku
dan Irian. Spesies ini terdapat didaerah pengunungan sampai ketinggian
1600 meter diatas permukaan air laut. Jentik ditemukan pada air yang
jernih dan banyak kena sinar matahari.
f. Anopheles subpictus
Sepesies ini terdapat di seluruh wilayah Indonesia. Nyamuk ini
dapat dibedakan menjadi dua spesies yaitu :
1) Anopheles subpictus subpictus
Jentik ditemukan di dataran rendah, kadang–kadang ditemukan
dalam air payau dengan kadar garam tinggi.
2) Anopheles subpictus malayensis
Spesies ini ditemukan pada dataran rendah sampai dataran tinggi.
Jentik ditemukan pada air tawar, pada kolam yang penuh dengan rumput
pada selokan dan parit.
g. Anopheles balabacensis
Spesies ini terdapat di Purwakarta, Jawa Barat, Balikpapan,
Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan. Jentik ditemukan pada
genangan air bekas tapak binatang, pada kubangan bekas roda dan pada
parit yang aliran airnya terhenti.
 
2. Morphologi
Malaria merupakan penyakit yang dapat bersifat akut maupun
kronik, malaria disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium
ditandai dengan demam, anemia dan splenomegali. Sampai sekarang
dikenal 4 jenis plasmodium, yaitu : .[10]
a. plasmodium falciparum sebagai penyebab Malaria Tropika.
b. plasmodium vivaks sebagai penyebab penyakit Malaria Tertiana.
c. plasmodium malariae sebagai penyebab penyakit Malaria
Quartana.
d. plasmodium ovale yang menyebabkan penyakit Malaria yang
hampir serupa dengan Malaria Tertiana.
Dalam daur hidupnya Plasmodium mempunyai 2 hospes, yaitu
vertebrata dan nyamuk. Siklus aseksual didalam hospes vertebrata
dikenal sebagai skizogoni dan siklus seksual yang terbentuk sporozoit
disebut sebagai sporogoni.
1. Skizogoni
Sporozoit infektif dari kelenjar ludah nyamuk Anopheles,
dimasukkan kedalam aliran darah hospes vertebrata (manusia) melalui
tusukkan nyamuk, dalam waktu 30 menit memasuki sel parenkim
hati, mulai stadium eksoeritrositik dari daur hidupnya. Di dalam sel
hati parasit tumbuh skizon.
2. Sporogoni
Sporogoni terjadi didalam nyamuk. Gemetosit yang masuk
bersama darah, tidak dicernakan bersama sel–sel darah lain. Pada
Mikrogametosit jantan titik kromatin membagi diri menjadi 6–8 inti
yang bergerak ke pinggir parasit. Di pinggir beberapa filamen
dibentuk seperti cambuk dan mempunyai gerakan aktif, yaitu yang
menjadi 6–8 mikrogametber inti tunggal, didesak keluar akhirnya
lepas dari sel induk. Proses ini disebut sebagai aksflagelasi.
Sementara makrogametosit betina menjadi matang sebagai
makrogamet terdiri atas sebuah badan dari sitoplasma yang berbentuk
bulat dengan sekelompok kromatin ditengah. Pembuahan (fertilisasi)
terjadi karena masuknya satu mikrogamet kedalam mikrogamet untuk
membentuk Zigot.
3. Distribusi Geografik
Penularan malaria secara ilmiah berlangsung melalui
gigitan nyamuk Anopheles betina. Hanya spesies nyamuk Anopheles
tertentu yang mampu menularkan penyakit malaria dan spesies tersebut
disebut sebagai vektor. Lebih dari 400 spesies Anopheles didunia, hanya
sekitar 67 yang terbukti mengandung sporozoit dan dapat menularkan
malaria. Di Indonesia telah ditemukan 24 spesies Anopheles yang
menjadi vektor malaria. .
Penyebaran geografik vektor malaria di Indonesia adalah sebagai
berikut:
1. An. Aitkenii : ditemukan di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan
dan Sulawesi.
2. An. Umbrosus : terdapat di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan
dan Sulawesi.
3. An. Beazai : pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
4. An. Letifer : terdapat di pulau Sumatera dan Kalimantan.
5. An.roperi : Sumatera dan Kalimantan.
6. An. Barbirostris : terdapat di Irian Jaya, Jawa, Sumatera,
Kalimantan dan Sulawesi
7. An.vanus : di temukan di pulau Kalimantan dan Sulawesi.
8. An.bancrofti : terdapat di pulau Irian Jaya.
9. An.sinensis : di pulau Sumatera.
10. An.nigerrimus : di temukan di pulau Jawa, Sumatera,
Kalimantan dan Sulawesi.
11. An.kochi : Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
12. An.tesselatus : Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
13. An.leucosphyrus : terdapat di pulau Sumatera dan Kalimantan.
14. An.balabacensis : terdapat di Jawa, dan Kalimantan.
15. An.punctulatus : saat ini hanya terdapat di Irian Jaya.
16. An.farauti : di temukan di Irian Jaya.
17. An.koliensis : Irian Jaya.
18. An.aconitus : terdapat di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan
dan Sulawesi.
19. An.minimus : di temukan Jawa, Sumatera, Kalimantan dan
Sulawesi.
20. An.flavirostris : Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
21. An.sundaicus : Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
22. An.subpictus : Irian Jaya, Jawa, Sumatera, Kalimantan dan
Sulawesi.
23. An.annularis : Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
24. An.maculatus : Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi.
 
4. Bionomi
a. Perilaku saat menghisap darah dan mekanisme penularan
penyakit.
Hanya nyamuk betina yang sering menghisap darah
nyamuk Anopheles sering menghisap darah diluar rumah dan suka
menggigit diwaktu senja sampai dini hari (Eksofagik) serta mempunyai
jarak terbang sejauh 1,6 Km sampai dengan 2 Km. Waktu antara
nyamuk menghisap darah yang mengandung Gametosit sampai
mengandung sporozoit dalam kelenjar liurnya, disebut masa tunas
ekstrinsik. Sporozoit adalah bentuk infektif. Infeksi dapat terjadi dengan
2 cara yaitu :.
􀂾 Alamiah (Natural Infaction)
Bila orang sehat digigit nyamuk malaria yang telah
terinfeksi oleh plasmodium. Pada saat mengigit sporozoit yang ada
dalam tubuh nyamuk masuk ke dalam darah manusia. Kemudian
orang sehat menjadi sakit dan dalam tubuhnya terjadi siklus hidup
parasit malaria.
􀂾 Induksi (Induced)
Bila stadium aseksual dalam eritrosit secara tidak sengaja
masuk dalam badan manusia melalui darah, misalnya transfusi,
suntikan, atau secara kongenital (bayi baru lahir mendapat infeksi
dari ibu yang menderita malaria melalui darah placenta), atau
secara sengaja untuk pengobatan berbagai penyakit (sebelum
perang dunia ke 2) demam yang timbul dapat menunjang
pengobatan berbagai penyakit seperti lues dan sindrum nefrotik.
Untuk terjadi penularan penyakit malaria harus ada empat faktor yaitu:
1. Parasit (agent / penyebab penyakit malaria)
2. Nyamuk Anopheles (vektor malaria)
3. Manusia (host intermediate)
4. Lingkungan (environment)
b. Perilaku pada waktu hinggap dan beristirahat
Nyamuk Anopheles lebih suka menghinggap dibatangbatang
rumput, dialam atau luar rumah (Eksofilik) yaitu tempat-tempat
lembab, terlindung dari sinar matahari, gelap. .[10]
c. Perilaku pada saat berkembang biak (Breeding Place)
Nyamuk Anopheles dapat berkembang biak ditempattempat
yang airnya menggenang seperti Sawah, Irigasi yang bagian
tepinya banyak ditumbuhi rumput dan tidak begitu deras airnya. .[10]
B. Pengendalian Nyamuk Anopheles
1. Pengendalian yang mungkin dan sudah di lakukan.
Nyamuk Anopheles dewasa ini banyak sekali metode
pengendalian vektor dan binatang pengganggu yang telah dikenal dan
dimanfaatkan oleh manusia. Dari berbagai metode yang telah dikenal
dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Pengendalian dengan cara menghindari/mengurangi kontak atau
gigitan nyamuk Anopheles.
a. Penggunaan kawat kasa pada ventilasi.
Dimana keadaan rumah ventilasi udara dipasangi atau tidak
dipasangi kawat kasa ini berfungsi untuk mencegah nyamuk
masuk ke dalam rumah.
b. Menggunakan kelambu pada waktu tidur.
Kebiasaan menggunakan kelambu pada tempat yang biasa di
pergunakan sebagai tempat tidur dan di gunakan sesuai dengan
tata cara penggunaan kelambu untuk tempat tidur dan waktu
penggunaan kelambu saat jam aktif nyamuk mencari darah.
c. Menggunakan zat penolak (Repellent).
Untuk kebiasaan penggunaan repellent yang digunakan pada saat
atau waktu nyamuk menggigit atau pada waktu akan tidur malam
atau pada waktu lain di malam hari.
2. Pengendalian dengan cara genetik dengan melakukan sterelisasi pada
nyamuk dewasa.
3. Pengendalian dengan cara menghilangkan atau mengurangi tempat
perindukan, yang termasuk kegiatan ini adalah :
a. Penimbunan tempat-tempat yang dapat menimbulkan genangan
air.
b. Pengeringan berkala dari satu sistem irigasi.
c. pengaturan dan perbaikan aliran air.
d. Pembersihan tanaman air dan semak belukar.
e. Pengaturan kadar garam misalnya pada pembuatan tambak ikan
atau udang.
4. Pengendalian Cara Biologi.
Pengendalian dengan cara ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan
musuh alaminya (predator) atau dengan menggunakan protozoa,
jamur dan beberapa jenis bakteri serta jenis-jenis nematoda.
5. Pengendalian Cara Fisika-Mekanik.
Pengendalian dengan Fisika-Mekanik ini menitik beratkan usahanya
pada penggunaan dan memanfaatkan faktor-faktor iklim kelembaban
suhu dan cara-cara mekanis.
6. Pengendalian dengan cara pengolaan lingkungan (Environmental
management).
Dalam pengendalian dengan cara pengelolaan lingkungan dikenal
dua cara yaitu .
a. Perubahan lingkungan (Environmental Modivication).
Meliputi kegiatan setiap pengubahan fisik yang permanen
terhadap tanah, air dan tanaman yang bertujuan untuk mencegah,
menghilangkan atau mengurangi tempat perindukan nyamuk
tanpa menyebabkan pengaruh yang tidak baik terhadap kuwalitas
lingkungan hidup manusia. Kegiatan ini antara lain dapat berupa
penimbunan (filling), pengertian (draining), perataan permukaan
tanah dan pembuatan bangunan, sehingga vektor dan binatang
penganggu tidak mungkin hidup.
b. Manipulasi Lingkungan (Environment Manipulation)
Sehingga tidak memungkinkan vektor dan binatang
pengganggu berkembnang dengan baik. Kegiatan ini misalnya
dengan merubah kadar garam (solinity), pembersihan tanaman air
atau lumut dan penanaman pohon bakau pada pantai tempat
perindukan nyamuk sehingga tempat itu tidak mendapatkan sinar
matahari.
2. Pengendalinan Dengan Cara Kimia (Chemical Control).
Pengendalian dengan cara kimia (Chemical Control) ini
disebut juga pengendalian dengan menggunakan pestisida. Pestisida
adalah suatu zat kimia yang dapat membunuh vektor dan binatang
pengganggu. Disamping pengendalian secara langsung kepada vektor,
pengendalian secara kimiawi juga bisa dilakukan terhadap tanaman yang
menunjang kehidupan vektor dan binatang penggangu dengan
menggunakan herbisida. Penggunaan pestisida untuk mengendalikan
vektor dan binatang pengganggu memang sangat efektif tetapi dapat
menimbulkan masalah yang serius karena dapat merugikan manusia dan
lingkungannya. .
3. Pemanfaatan ekstrak daun zodia.
a. Klasifikasi tentang bunga zodia
Urutan penggolongan klasifikasi.[26]
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Sub kingdom : Trocheobionto (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan Biji)
Divisi : Magnoliopsida (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Rosidoe
Ordo : Sapindoles
Famili : Ruteceae
Genus : Evodia
Spesies : Evodia Suaveolens Scheff
Gambar 2.3 Daun Zodia
Zodia merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari
daerah Irian (Papua). Oleh penduduk setempat tanaman ini biasa
digunakan untuk menghalau serangga, khususnya nyamuk apabila hendak
pergi ke hutan, yaitu dengan cara menggosokkan daunnya ke kulit. .[26]
Selain itu tanaman yang memiliki tinggi antara 50 cm hingga 200
cm (rata-rata 75 cm) di percaya mampu mengusir nyamuk dan serangga
lainnya dari sekitar tanaman. Oleh sebab itu, tanaman ini sering di tanam
di pekarangan ataupun di pot untuk menghalau nyamuk. Aroma yang
dikeluarkan oleh tanaman zodia cukup wangi.
Biasanya tanaman ini mengeluarkan aroma apabila tanaman tergoyah
oleh tiupan angin hingga di antara daunnya saling menggosok maka
keluarlah aroma yang wangi.
Saat ini sebagian masyarakat menyimpan tanaman zodia pada pot
didalam ruangan sehingga selain memberikan aroma yang khas, juga
aromanya dapat menghalau nyamuk didalam ruangan. Namun demikian
tidak berarti bahwa nantinya di dalam ruangan terdapat bangkai nyamuk
sebagai akibat dari tanaman ini, nyamuk hanya terusir karena tidak
menyukai aroma dari tanaman ini. Penyimpanan tanaman juga sering
diletakkan disekitar tempat angin masuk ke dalam ruangan, nyamuk
yang hendak masukpun terhalau.
C. Repellent
Repellent adalah substansi yang digunakan untuk melindungi manusia
dari gangguan nyamuk dan serangga pengigit lainnya. Secara umum
repellent dibagi menjadi 2 kategori, yakni repellen kimia dan Repellen
alami. Repellen kimia misalnya DEET (N, N diethyl-m-Toluamide)
(Anonim 1999). Repellen alami dapat digunakan peptisida nabati. Peptisida
nabati menimbulkan residu relative rendah pada bahan makanan dan
lingkungan serta dianggap lebih aman dari pada pestisida sintesis. Pestisida
nabati dapat diperoleh melalui tumbuhan penghasil insektisida nabati.
Insektisida nabati adalah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida
pengendali hama insekta.
Tumbuhan yang biasa digunakan sebagai insektisida nabati salah
satunya dlingo. Bagian tumbuhan yang digunakan rimpangnya, rimpang
dlingo dapat digunakan dalam dua bentuk yaitu berbentuk tepung dan
minyak. Rimpang dlingo mengandung minyak yang dapat digunakan
sebagai bahan insektisida yang berkerja sebagai repellen (penolak serangga)
tanaman lainnya bisa menggunakan pyrethrum, serai, zodia, gerainium,
rosmery, soga, bitung, babandotan.
Repellent digunakan dengan cara menggosokkan pada tubuh atau
menyemprotkan pada pakaian. Oleh karena itu repellen mempunyai syarat:
a. Sifat fisio kimia seperti stabilitas, kompatibel (dengan bahan lain
dalam formulasi)
b. Efektif dan berefek lama sebagai repellen
c. Bersifat spektrum luas (efek terhadap macam jenis serangga)
d. Toksisitas rendah, tidak berbahaya, tidak menyebabkan iritasi
e. Nyaman digunakan
f. Tidak merusak pakaiaan, tahan air
g. Sumber bahan banyak, teknologi industri sederhana, biaya rendah,
harga terjangkau
Efektifitas penggunaan repellen dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain komponen kimia bahan aktif, titik didih dan kecepatan penguapan, jenis
serangga target, pemakai (lingkungan, kelembaban udara, temperature
atmosfer, dan sirkulasi udara). Pengendalian nyamuk dengan Repellen
mempunyai keuntungan misalnya digunakan secara perorangan dengan
mudah, mencegah polusi lingkungan, dan toksistas rendah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Retno, seorang anak muda yang menyukai dan mencoba mendalami dunia web ingin berbagi pengetahuan lewat blog ini ...